Waktu yang Lebih Dekat: Kualitas Interaksi Keluarga Selama Liburan
Cover edited
Liburan sering dianggap sebagai waktu istirahat dari rutinitas harian, tetapi bagi keluarga, liburan juga menjadi momen berharga untuk membangun kualitas interaksi yang lebih dalam dengan anak. Saat aktivitas sekolah dan pekerjaan berkurang, keluarga memiliki ruang lebih luas untuk saling terhubung tanpa tekanan waktu.
Kualitas interaksi keluarga merujuk pada bagaimana anggota keluarga saling berkomunikasi, merespons, dan membangun hubungan emosional yang positif. Interaksi yang berkualitas bukan diukur dari seberapa lama waktu bersama, melainkan seberapa bermakna kehadiran satu sama lain dalam aktivitas sehari-hari.
Selama liburan, interaksi keluarga sering terjadi secara lebih alami. Makan bersama, bermain, berjalan-jalan, atau sekadar berbincang santai memberi kesempatan bagi anak untuk merasa didengar dan dihargai. Situasi ini membantu anak membangun rasa aman emosional yang penting bagi perkembangannya.
Bagi anak usia dini, interaksi keluarga yang hangat selama liburan sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan emosional. Anak belajar mengekspresikan perasaan, memahami emosi orang lain, serta membangun kepercayaan diri melalui respon positif dari orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Contoh sederhana kualitas interaksi keluarga bisa terlihat saat orang tua meluangkan waktu bermain bersama anak tanpa distraksi gawai. Ketika orang tua benar-benar hadir, anak merasa diperhatikan dan lebih terbuka dalam berkomunikasi, baik melalui cerita, tanya jawab, maupun ekspresi emosi.
Liburan juga menjadi momen refleksi bagi keluarga untuk memperbaiki pola interaksi. Orang tua dapat lebih peka terhadap kebutuhan anak, memahami kebiasaan baru anak, serta menyesuaikan cara berkomunikasi agar lebih empatik dan suportif.
Namun, tidak semua interaksi selama liburan otomatis berkualitas. Liburan yang diisi dengan aktivitas pasif, seperti penggunaan gawai berlebihan, justru dapat mengurangi kedekatan emosional. Oleh karena itu, kesadaran keluarga dalam menciptakan momen interaksi yang bermakna menjadi sangat penting.
Interaksi keluarga yang berkualitas selama liburan berdampak langsung pada kesiapan anak kembali ke sekolah. Anak yang merasa aman dan didukung di rumah cenderung lebih percaya diri, mudah beradaptasi, dan memiliki sikap sosial yang positif di lingkungan sekolah.
Selain itu, pengalaman interaksi positif selama liburan membantu anak membentuk nilai-nilai dasar seperti empati, kerja sama, dan saling menghargai. Nilai-nilai ini menjadi bekal penting bagi anak dalam membangun relasi sosial di masa depan.
Pada akhirnya, liburan bukan sekadar jeda dari kesibukan, tetapi kesempatan emas untuk memperkuat ikatan keluarga. Ketika interaksi keluarga berlangsung hangat dan bermakna, anak tidak hanya merasa bahagia, tetapi juga tumbuh dengan fondasi emosional yang kuat.
Referensi:
Berk, L. E. (2013). Child Development. Pearson Education.
UNESCO. (2019). Happy Schools: A Framework for Learner Well-being.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
SDGs terkait: SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 Pendidikan Berkualitas