Anak Tantrum di Tempat Umum? Ini 7 Cara Mengatasinya dengan Tenang
Fenomena anak tantrum di tempat umum, seperti di supermarket, mal, atau transportasi publik, seringkali menjadi momen yang membuat orang tua merasa cemas, frustrasi, bahkan malu. Ledakan emosi yang tak terduga ini memang dapat menarik perhatian orang sekitar. Namun, penting bagi Ayah dan Bunda untuk memahami bahwa tantrum adalah bagian normal dari perkembangan anak. Dengan pemahaman dan ketenangan yang tepat, situasi ini dapat diatasi dengan bijak.
Apa Itu Tantrum? (Definisi)
Tantrum atau temper tantrum adalah luapan emosi kuat yang tidak terkendali pada anak-anak, yang biasanya terjadi pada usia prasekolah (sekitar 1 hingga 4 tahun). Tantrum terjadi karena anak memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi atau mengelola emosinya saat merasa frustrasi, lelah, lapar, cemas, atau menginginkan sesuatu tetapi ditolak.
Perilaku yang ditampilkan saat tantrum bisa bermacam-macam, mulai dari:
Menangis kencang, merengek, atau menjerit.
Meronta-ronta, menendang, atau memukul.
Berguling-guling di lantai.
Melempar barang.
Menahan napas (pada kasus tertentu).
✨ Trivia: Fakta Menarik Seputar Tantrum
Tahukah Anda?
Puncak Kejadian: Tantrum paling sering terjadi pada anak usia 18 bulan hingga 3 tahun karena di usia ini, anak mulai mengembangkan kemandirian tetapi masih kesulitan mengungkapkan keinginan atau kebutuhannya secara verbal.
Tujuan Tantrum: Dalam banyak kasus, tantrum adalah upaya anak untuk mendapatkan kembali kendali atas situasi atau melampiaskan rasa frustrasi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Berbeda dengan Rewel Biasa: Tantrum umumnya ditandai dengan intensitas emosi yang meledak-ledak dan di luar kendali, sementara rewel biasa cenderung lebih mudah ditenangkan atau dialihkan perhatiannya.
7 Cara Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum dengan Tenang
Menghadapi tatapan orang lain saat anak tantrum di publik memang berat, tetapi kunci utamanya adalah tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan. Berikut 7 langkah tenang yang bisa Ayah dan Bunda terapkan:
1. Pertahankan Ketenangan Diri (Self-Control)
Saat anak mulai merengek atau berteriak, tarik napas dalam-dalam. Hindari memarahi, membentak, atau berteriak balik. Reaksi berlebihan justru akan membuat emosi anak semakin menjadi-jadi dan mengajarkan anak bahwa ledakan emosi adalah cara untuk mendapatkan perhatian.
2. Akui dan Validasi Perasaan Anak
Jangan pernah menyepelekan perasaan anak, meskipun penyebab tantrum (misalnya, es krim jatuh atau tidak dibelikan mainan) terasa sepele bagi orang dewasa. Ucapkan kalimat yang menunjukkan Anda memahami perasaannya, misalnya:
"Ibu mengerti kamu marah/sedih karena mainannya tidak bisa dibeli sekarang. Wajar kalau kamu kesal."
3. Bawa Anak ke Tempat yang Lebih Sepi dan Aman
Jika memungkinkan, segera pindahkan anak ke area yang lebih tenang, seperti toilet, area parkir, atau luar ruangan. Ini membantu Anda dan anak terhindar dari keramaian dan tatapan publik, sehingga Anda bisa fokus menenangkan anak tanpa merasa tertekan.
4. Gunakan Sentuhan Fisik
Saat anak mengamuk, pelukan yang lembut namun tegas sering kali sangat membantu. Pelukan dapat memberikan rasa aman dan menunjukkan bahwa Anda peduli, meskipun Anda tidak menyetujui perilakunya. Ajak anak untuk melepaskan amarahnya sambil dipeluk.
5. Tawarkan Pilihan, Bukan Pertanyaan Terbuka
Setelah anak sedikit tenang, alihkan perhatiannya dan berikan pilihan terbatas untuk membantu dia mendapatkan kembali kendali. Hindari bertanya "Mau apa?" Sebaliknya, tanyakan:
"Kamu mau lanjut jalan-jalan sekarang atau mau duduk di sini dulu sampai tenang?"
6. Tetap Tegas pada Aturan dan Konsisten
Jika tantrum terjadi karena penolakan terhadap permintaan (misalnya, menolak membelikan mainan), jangan pernah menyerah dan menuruti permintaannya demi menghentikan tantrum. Menuruti tantrum akan menjadi reward yang membuat anak mengulangi perilaku tersebut di masa depan. Setelah anak tenang, jelaskan kembali aturan dengan singkat dan tegas.
7. Antisipasi Pencegahan
Tantrum sering dipicu oleh rasa lapar, lelah, atau mengantuk. Sebelum bepergian, pastikan kebutuhan dasar anak sudah terpenuhi (sudah makan dan cukup istirahat). Selain itu, buatlah aturan jelas sebelum berangkat:
"Kita pergi hanya untuk beli sayuran, tidak ada mainan baru hari ini."
Ingat: Tantrum akan berlalu. Jadilah teladan yang tenang dan sabar bagi si kecil, dan pahami bahwa setiap momen tantrum adalah kesempatan bagi anak untuk belajar mengelola emosinya.