Tumbuh di Dua Dunia: Transisi Budaya Anak dengan Orangtua Berbeda Budaya
Cover edited
Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan orangtua berbeda budaya memiliki pengalaman perkembangan yang unik dan kaya. Sejak dini, mereka terbiasa mendengar bahasa, melihat kebiasaan, dan merasakan nilai yang beragam dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini sering menjadi kekuatan, tetapi juga dapat memunculkan tantangan dalam proses adaptasi.
Secara pengertian, transisi budaya anak dengan orangtua berbeda budaya adalah proses penyesuaian identitas, kebiasaan, dan nilai yang dialami anak ketika ia berada di antara dua atau lebih latar budaya. Proses ini berlangsung secara alami, namun tetap memerlukan pendampingan yang sensitif dari orang dewasa di sekitarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, contoh transisi budaya dapat terlihat dari kebiasaan makan di rumah. Anak mungkin terbiasa makan dengan tangan mengikuti budaya salah satu orangtua, sementara di lingkungan sekolah ia menggunakan alat makan sesuai kebiasaan umum. Situasi sederhana ini melatih anak untuk fleksibel, tetapi juga bisa menimbulkan kebingungan bila tidak dijelaskan dengan baik.
Bahasa menjadi aspek paling nyata dalam transisi budaya. Anak yang mendengar dua bahasa di rumah sering mencampurkan kosakata saat berbicara. Hal ini bukan tanda keterlambatan, melainkan proses alami perkembangan bilingual yang justru memperkaya kemampuan kognitif anak.
Nilai dan aturan keluarga juga dapat berbeda. Salah satu orangtua mungkin menekankan kemandirian sejak dini, sementara yang lain lebih menonjolkan kebersamaan. Anak belajar menegosiasikan perbedaan ini melalui pengalaman langsung, terutama ketika orangtua mampu menunjukkan sikap saling menghargai.
Lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membantu anak menjalani transisi budaya. Guru yang terbuka terhadap keberagaman akan menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan identitasnya tanpa rasa takut berbeda.
Orangtua perlu menjadi jembatan budaya bagi anak. Cerita tentang asal-usul keluarga, perayaan tradisi secara sederhana, dan dialog santai tentang perbedaan akan membantu anak memahami bahwa keberagaman adalah hal yang wajar.
Jika tidak didampingi, transisi budaya dapat memunculkan stres adaptasi, seperti anak merasa harus memilih salah satu budaya. Oleh karena itu, pendekatan inklusif dan empatik sangat dibutuhkan agar anak merasa utuh sebagai dirinya sendiri.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, keberagaman budaya seharusnya dipandang sebagai sumber belajar. Aktivitas kelas yang mengenalkan berbagai budaya akan membuat anak dari keluarga multibudaya merasa diakui.
Pada akhirnya, transisi budaya anak dengan orangtua berbeda budaya adalah proses pembentukan identitas yang dinamis. Dengan dukungan keluarga dan lingkungan pendidikan, anak dapat tumbuh menjadi individu yang terbuka, toleran, dan percaya diri.
Referensi:
Bronfenbrenner, U. (1994). Ecological Models of Human Development.
UNESCO. (2019). Investing in Cultural Diversity and Intercultural Dialogue.
UNICEF. (2021). Early Childhood Development and Inclusion.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan, SDG 16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh