Toxic Positivity pada Anak: Apakah Selalu Harus Bilang ‘Tidak Apa-Apa’?
Dalam proses tumbuh kembang anak, orang tua tentu ingin memberikan dukungan terbaik. Salah satu bentuk dukungan yang sering diberikan adalah kalimat-kalimat positif seperti “Tidak apa-apa ya,” atau “Kamu harus tetap senyum.” Namun tanpa disadari, dorongan positif yang berlebihan justru dapat berubah menjadi toxic positivity—yakni sikap yang memaksa anak untuk selalu merasa atau terlihat bahagia, bahkan ketika mereka sedang menghadapi emosi yang sulit. Alih-alih menenangkan, sikap ini bisa membuat anak bingung dengan perasaannya sendiri.
Toxic positivity pada anak terjadi ketika orang tua atau pengasuh menolak, menutupi, atau mengabaikan emosi negatif anak, dengan tujuan “membuat suasana tetap positif”. Misalnya, saat anak jatuh dan menangis lalu segera dikatakan “Sudah, jangan nangis. Nggak apa-apa kok!” atau ketika anak sedang kecewa karena kalah bermain tetapi malah disuruh “Tetap senyum ya, biar kuat.” Pesan positif ini terdengar baik, tetapi jika terus-menerus dilakukan, anak bisa belajar bahwa menangis, kecewa, marah, atau takut adalah sesuatu yang salah dan harus disembunyikan.
Padahal, emosi negatif adalah bagian alami dari perkembangan anak. Anak perlu mengenali, merasakan, dan memahami semua jenis emosi agar bisa membangun keterampilan regulasi emosi yang sehat. Ketika perasaan mereka diabaikan atau dipaksa untuk “positif”, anak dapat merasa tidak dimengerti, tidak dihargai, atau bahkan menjadi ragu terhadap emosinya sendiri. Dalam jangka panjang, anak mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sulit mengungkapkan perasaan, cenderung memendam masalah, atau merasa bersalah setiap kali sedih atau kesal.
Sebagai pengganti toxic positivity, orang tua dapat memberikan pendekatan yang lebih suportif seperti validasi emosi. Validasi berarti mengakui dan menerima perasaan anak tanpa menghakimi. Contohnya, mengganti “Nggak apa-apa, jangan sedih,” dengan “Kamu sedih ya? Wajar kok merasa sedih kalau mainannya rusak.” Setelah itu, orang tua dapat membantu anak menemukan cara menghadapi emosinya, misalnya dengan bernapas tenang, mencari solusi, atau sekadar memberi pelukan. Dengan cara ini, anak belajar bahwa semua emosi itu sah dan bisa dihadapi dengan aman.
Toxic positivity sering kali muncul dari niat baik orang tua yang ingin membuat anak cepat tenang. Namun, membiarkan anak merasa dan mengekspresikan emosinya secara sehat adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang. Jadi, anak tidak selalu harus dibilang “tidak apa-apa”. Yang lebih penting adalah membantu mereka memahami apa yang sedang mereka rasakan dan bagaimana cara mengelolanya. Dengan begitu, anak tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri, empatik, dan mampu menghadapi berbagai situasi emosional dalam hidup.