Tips dan Trik Memanfaatkan Permainan Tradisional sebagai Media Belajar
Permainan tradisional sering dianggap sekadar aktivitas pengisi waktu luang anak. Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan tradisional menyimpan potensi besar sebagai media belajar yang bermakna. Di tengah dominasi permainan digital, menghidupkan kembali permainan tradisional menjadi langkah strategis dalam dunia pendidikan, khususnya untuk anak usia dini.
Permainan tradisional dapat diartikan sebagai permainan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, diwariskan secara turun-temurun, serta sarat dengan nilai budaya. Permainan seperti congklak, engklek, gobak sodor, dan ular naga tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengandung unsur pembelajaran yang kaya.
Sebagai media belajar, permainan tradisional membantu anak mengembangkan berbagai aspek perkembangan secara simultan. Saat bermain, anak melatih motorik kasar dan halus, kemampuan berpikir, bahasa, sosial, dan emosi. Proses belajar terjadi secara alami tanpa tekanan karena anak merasa sedang bermain, bukan belajar secara formal.
Salah satu tips penting dalam memanfaatkan permainan tradisional adalah menyesuaikannya dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, congklak dapat digunakan untuk mengenalkan konsep berhitung dan strategi sederhana. Anak belajar menghitung biji, membandingkan jumlah, dan memprediksi langkah selanjutnya dengan cara yang menyenangkan.
Pendekatan kontekstual juga menjadi kunci. Guru dan orang tua dapat mengaitkan permainan dengan kehidupan sehari-hari anak. Dalam permainan engklek, misalnya, anak dapat belajar mengenal angka, warna, serta melatih keseimbangan tubuh secara bersamaan.
Interaksi sosial yang muncul dalam permainan tradisional merupakan nilai tambah yang penting. Anak belajar bekerja sama, mengikuti aturan, menunggu giliran, serta menerima kemenangan dan kekalahan. Nilai-nilai ini sulit diperoleh jika anak hanya bermain secara individual dengan gawai.
Contoh praktik sederhana adalah mengajak anak bermain gobak sodor dalam kegiatan luar ruangan sekolah. Selain melatih fisik, anak belajar strategi tim, komunikasi, dan sportivitas. Guru dapat menutup kegiatan dengan refleksi ringan tentang pengalaman bermain anak.
Konsistensi dan kreativitas orang dewasa sangat berperan dalam keberhasilan pemanfaatan permainan tradisional. Permainan dapat dimodifikasi sesuai usia dan kebutuhan anak tanpa menghilangkan esensi dasarnya. Modifikasi ini justru membuat permainan lebih relevan dengan konteks pembelajaran modern.
Permainan tradisional juga menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai budaya dan karakter. Anak belajar menghargai warisan budaya lokal sekaligus membangun identitas diri. Proses ini berlangsung secara alami dan menyenangkan.
Dengan pendekatan yang tepat, permainan tradisional bukanlah metode kuno, melainkan media belajar yang kontekstual, inklusif, dan bermakna. Anak tidak hanya belajar materi, tetapi juga belajar menjadi manusia seutuhnya.
Pemanfaatan permainan tradisional sebagai media belajar merupakan bentuk sinergi antara pelestarian budaya dan inovasi pendidikan. Melalui permainan, belajar menjadi pengalaman yang hidup dan berkesan bagi anak.
Referensi: Pellegrini, A. D. 2009. The Role of Play in Human Development. Kemdikbud. 2018. Permainan Tradisional Anak Indonesia. Hirsh-Pasek, K., et al. 2015. Learning Through Play.
Created: Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah, Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
Artikel ini mendukung SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-11 Sustainable Cities and Communities melalui pendidikan berbasis budaya dan pembelajaran bermakna.