Terjebak Standar Orang Tua Ideal di Zaman Serba Tampil
Menjadi orang tua di era sekarang tidak hanya tentang mengasuh dan membesarkan anak, tetapi juga tentang bagaimana tampil sebagai “orang tua ideal”. Istilah ini sering muncul di media sosial, seminar parenting, hingga obrolan sehari-hari. Tanpa disadari, standar tersebut menciptakan tekanan psikologis yang cukup besar bagi banyak orang tua.
Orang tua ideal kerap digambarkan sebagai sosok yang selalu sabar, hadir penuh waktu, memahami tumbuh kembang anak, sukses secara karier, dan tetap harmonis dalam keluarga. Gambaran ini terlihat indah, tetapi sering kali jauh dari realitas keseharian orang tua yang penuh keterbatasan.
Tekanan muncul ketika orang tua mulai membandingkan diri dengan gambaran ideal tersebut. Perbandingan ini tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dari ekspektasi diri sendiri yang terbentuk oleh lingkungan dan budaya populer.
Sebagai contoh, orang tua merasa bersalah ketika tidak sempat menyiapkan bekal sehat setiap hari atau tidak bisa mendampingi anak belajar karena pekerjaan. Rasa bersalah ini terus menumpuk dan berubah menjadi stres, bahkan kelelahan emosional.
Media sosial menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Unggahan tentang anak yang berprestasi, rumah yang rapi, dan keluarga yang tampak bahagia sering kali membuat orang tua merasa gagal. Padahal, apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Tekanan menjadi orang tua ideal juga berdampak pada pola asuh. Beberapa orang tua menjadi terlalu perfeksionis, sementara yang lain justru kehilangan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan pengasuhan. Anak pun dapat merasakan ketegangan emosional tersebut.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, kondisi emosional orang tua sangat berpengaruh. Orang tua yang tertekan cenderung sulit menikmati proses belajar bersama anak, padahal interaksi hangat dan santai justru menjadi kunci pembelajaran bermakna.
Lembaga pendidikan dapat berperan penting dalam meredakan tekanan ini. Pendekatan yang humanis, komunikasi terbuka, dan penguatan bahwa setiap keluarga unik membantu orang tua merasa diterima apa adanya.
Penting untuk memahami bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Pengasuhan adalah proses belajar yang penuh dinamika. Mengakui keterbatasan justru menjadi langkah awal menuju pengasuhan yang sehat.
Mengganti konsep orang tua ideal dengan orang tua cukup baik dapat membantu mengurangi tekanan. Fokus pada kehadiran, kepedulian, dan konsistensi lebih relevan dibandingkan mengejar kesempurnaan.
Ketika orang tua lebih berdamai dengan diri sendiri, hubungan dengan anak menjadi lebih hangat. Anak belajar bahwa menjadi manusia berarti belajar, berproses, dan saling memahami.
Tekanan sosial akan selalu ada, tetapi dukungan lingkungan dan literasi pengasuhan yang realistis dapat menjadi penyeimbang. Dari sinilah kesejahteraan keluarga dapat tumbuh.
Referensi: Winnicott, D. W. 1965. The Maturational Processes. Hays, S. 1996. The Cultural Contradictions of Motherhood. Kemdikbud. 2021. Pendidikan Keluarga.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini terkait dengan SDGs tujuan ke-3 Good Health and Well-Being dan tujuan ke-4 Quality Education yang menekankan kesejahteraan orang tua dan kualitas pengasuhan.