Teori Play Schema: Mengapa Anak Terobsesi dengan Mengulang Pola yang Sama dan Manfaatnya
Teori play schema menjelaskan bahwa anak-anak memiliki kecenderungan alami untuk mengulang pola permainan yang sama secara terus-menerus. Mulai dari menuang air berulang kali, menata balok sesuai urutan tertentu, mendorong mobil tanpa henti, hingga memasukkan benda ke dalam wadah, semua perilaku itu bukan sekadar “obsesi”, tetapi bagian dari proses belajar yang sangat penting. Play schema adalah pola perilaku berulang yang dilakukan anak untuk memahami bagaimana dunia bekerja. Melalui pengulangan itu, otak anak membangun koneksi, memperkuat pemahaman sebab-akibat, mengasah motorik, serta menstimulasi kreativitas dan pemecahan masalah.
Pada usia dini, otak anak sedang berada dalam tahap eksplorasi intensif. Mereka belajar melalui pengalaman langsung, bukan instruksi verbal. Itulah sebabnya mereka tampak "tidak bosan" melakukan aktivitas yang sama, meski orang dewasa kadang kehabisan sabar melihatnya. Misalnya, anak yang terus-menerus menumpahkan pasir dan mengisinya kembali sebenarnya sedang mempelajari konsep trajectory (arah gerak), berat, gravitasi, dan kontrol motorik. Anak yang senang menyusun benda sesuai warna atau ukuran sedang mengembangkan schema positioning dan classification, yang kelak membantu kemampuan matematika dan logika.
Ada beberapa jenis play schema yang umum, seperti trajectory (melempar dan menjatuhkan benda), transporting (memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain), enveloping (membungkus dan menutup benda), rotation (memutar roda atau objek), orientation (melihat sesuatu dari sudut berbeda), hingga transforming (mencampur bahan dan melihat perubahan). Orang tua dan guru dapat memanfaatkan pola ini untuk merancang aktivitas yang sesuai kebutuhan perkembangan anak. Dengan memahami schema, lingkungan belajar bisa dibuat lebih suportif, mengurangi konflik, serta meningkatkan konsentrasi dan kemandirian anak.
Trivia Menarik:
-
Play schema bersifat universal — anak di seluruh dunia, tanpa memandang budaya atau bahasa, menunjukkan pola permainan yang sama.
-
Pengulangan bukan tanda bosan — justru tanda otak bekerja keras membangun konsep baru.
-
Anak dengan minat kuat pada satu schema sering terlihat “bandel” — seperti sering melempar benda — padahal mereka hanya menjelajahi schema trajectory.
-
Play schema mendukung kesiapan sekolah — penelitian menunjukkan anak yang mendapat kesempatan eksplorasi bebas lebih cepat memahami logika sains dan matematika.
-
Anak jarang memiliki satu schema saja — biasanya mereka memiliki kombinasi yang berkembang seiring bertambahnya usia.
Dengan memahami teori play schema, orang dewasa dapat melihat perilaku berulang anak bukan sebagai masalah, tetapi sebagai jendela untuk memahami tahap perkembangan mereka. Pendekatan ini membantu kita memberikan stimulasi yang lebih tepat, menghargai proses alami belajar anak, dan mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.