Studi Neuroimaging: Bagaimana Screen Time Berlebihan Mengubah Kerapatan Materi Putih Otak Anak Usia Dini
Screen time berlebihan pada anak usia dini semakin menjadi perhatian para peneliti, terutama karena dampaknya terhadap perkembangan otak. Neuroimaging, yaitu teknik pencitraan otak seperti MRI dan fMRI, memungkinkan ilmuwan melihat struktur dan fungsi otak secara detail tanpa tindakan invasif. Melalui studi-studi modern, neuroimaging telah mengungkap bahwa penggunaan gawai secara intens pada anak usia dini dapat memengaruhi salah satu bagian penting otak: materi putih (white matter).
Materi putih adalah jaringan saraf yang berfungsi menghubungkan berbagai bagian otak agar dapat berkomunikasi dengan cepat dan efisien. Pada masa usia dini—periode yang dikenal sebagai golden age—materi putih berkembang pesat melalui proses mielinisasi, yaitu pembentukan lapisan lemak yang melindungi serabut saraf. Namun, penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa paparan screen time berlebihan dapat menurunkan kerapatan materi putih, terutama pada area yang terkait dengan bahasa, kemampuan membaca, pemrosesan kognitif, dan pengendalian diri. Kondisi ini muncul karena otak anak lebih banyak menerima stimulus pasif dari layar dibanding pengalaman sensoris langsung, gerakan fisik, dan interaksi sosial yang sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan.
Para ilmuwan menemukan bahwa anak dengan screen time tinggi menunjukkan pola konektivitas otak yang lebih lemah. Sementara itu, anak yang lebih banyak melakukan aktivitas bermain bebas, membaca buku, berbicara dengan orang dewasa, atau melakukan eksplorasi fisik menunjukkan struktur materi putih yang lebih padat dan terorganisasi. Oleh karena itu, American Academy of Pediatrics merekomendasikan pembatasan screen time pada anak usia dini, bukan hanya untuk kesehatan mata dan perilaku, tetapi juga untuk menjaga integritas struktur otak jangka panjang.
Dari sudut pandang perkembangan, perubahan pada materi putih bukan berarti kerusakan permanen, namun dapat berdampak pada keterlambatan pembelajaran, kesulitan fokus, atau kemampuan berbahasa. Kabar baiknya, stimulasi lingkungan yang kaya, interaksi langsung dengan orang tua, serta kegiatan bermain aktif dapat membantu memulihkan dan memperkuat kembali jaringan saraf yang kurang optimal.
Trivia Menarik
-
MRI bisa “melihat” bagaimana anak belajar. Pada studi tertentu, peneliti menemukan bahwa anak yang sering dibacakan buku memiliki kerapatan materi putih di area bahasa yang jauh lebih baik dibanding mereka yang jarang dibacakan buku.
-
Otak anak di bawah usia 5 tahun berkembang 90% lebih cepat dibanding periode usia lainnya, sehingga sangat sensitif terhadap kualitas stimulasi lingkungan.
-
Materi putih bertanggung jawab atas “kecepatan internet”-nya otak. Semakin padat dan terorganisasi, semakin cepat otak memproses informasi.
-
Screen time pasif ≠ screen time aktif. Program interaktif berbasis edukasi yang didampingi orang tua memiliki efek berbeda dan tidak menurunkan kerapatan materi putih seburuk screen time pasif yang panjang.
-
Interaksi manusia masih menjadi “stimulus nomor satu”. Tidak ada aplikasi yang dapat menyaingi dampak neurobiologis dari kontak mata, percakapan langsung, dan permainan kreatif.