Sleep Regression pada Balita: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Sleep regression adalah fase ketika balita yang sebelumnya memiliki pola tidur teratur tiba-tiba menjadi sulit tidur, sering terbangun di malam hari, atau menolak tidur siang. Kondisi ini umum terjadi pada anak usia 4 bulan, 8–10 bulan, 12 bulan, 18 bulan, hingga 2 tahun. Meskipun sering membuat orang tua kewalahan, sleep regression sebenarnya merupakan tanda bahwa anak sedang mengalami perkembangan baru yang signifikan.
Apa Itu Sleep Regression?
Sleep regression adalah periode sementara ketika kualitas tidur anak menurun karena adanya lonjakan perkembangan (growth spurt) atau perubahan rutinitas. Pada fase ini, otak anak bekerja sangat aktif untuk memproses kemampuan baru—seperti merangkak, berjalan, berbicara—sehingga membuatnya lebih terjaga dan sulit kembali ke pola tidur normal.
Penyebab Sleep Regression pada Balita
Beberapa penyebab umum meliputi:
-
Lompatan perkembangan (developmental milestones) – Anak belajar keterampilan baru yang membuat otaknya lebih aktif.
-
Kecemasan perpisahan (separation anxiety) – Biasanya muncul di rentang usia 8–18 bulan.
-
Perubahan rutinitas – Seperti pindah tempat tidur, bepergian, atau perubahan jadwal tidur.
-
Pertumbuhan fisik – Seperti tumbuh gigi atau peningkatan kebutuhan nutrisi.
-
Stimulasi berlebihan – Sebelum tidur, seperti layar gadget atau permainan yang terlalu aktif.
Dampak Sleep Regression bagi Anak dan Orang Tua
Sleep regression dapat menyebabkan anak tampak lebih rewel, mudah menangis, atau sulit berkonsentrasi saat bermain. Kurangnya tidur juga bisa membuat anak cepat lelah dan lebih sensitif terhadap perubahan. Bagi orang tua, gangguan tidur anak berpengaruh pada kualitas istirahat, yang dapat memicu stres, kelelahan, dan ketidakstabilan emosi.
Cara Mengatasi Sleep Regression
Meskipun melelahkan, sleep regression bersifat sementara. Beberapa strategi berikut dapat membantu:
-
Pertahankan rutinitas tidur yang konsisten, seperti mandi, membaca buku, atau mendengarkan musik tenang.
-
Ciptakan suasana kamar yang nyaman, redup, dan minim distraksi.
-
Berikan kenyamanan ekstra, terutama jika anak sedang tumbuh gigi atau mengalami kecemasan perpisahan.
-
Hindari stimulasi sebelum tidur, seperti penggunaan gadget atau permainan aktif.
-
Pastikan kebutuhan fisik terpenuhi, termasuk kenyang, popok kering, dan cukup aktivitas di siang hari.
-
Latih self-soothing secara bertahap agar anak mampu menenangkan diri saat terbangun.
Trivia Menarik tentang Sleep Regression
-
Tidak semua balita mengalami sleep regression, namun sebagian besar akan melewati setidaknya satu fase.
-
Sleep regression sering terjadi bersamaan dengan lompatan kemampuan baru, seperti belajar berjalan atau berbicara.
-
Fase ini biasanya berlangsung 2–6 minggu, tergantung anak dan penyebabnya.
-
Mengembalikan rutinitas tidur adalah kunci utama agar pola tidur anak kembali normal.
-
Sleep regression adalah tanda positif bahwa otak anak berkembang pesat meski terlihat melelahkan bagi orang dewasa.