Si Kecil Harus Sempurna? Menguak Pola Asuh Perfeksionis yang Sering Tak Terlihat
Pola asuh perfeksionis adalah gaya pengasuhan di mana orang tua secara sadar maupun tidak menuntut anak untuk selalu tampil sempurna—baik dalam perilaku, prestasi, maupun penampilan. Dalam pola asuh ini, standar yang diberikan cenderung sangat tinggi, sering kali tidak realistis, dan kurang memberi ruang bagi anak untuk berproses serta membuat kesalahan. Meski terlihat sebagai bentuk kepedulian agar anak menjadi “yang terbaik”, pola asuh perfeksionis justru dapat menimbulkan tekanan emosional dan menghambat perkembangan alami anak. Tantangan ini sering tidak disadari karena biasanya terselip dalam kalimat motivasi atau harapan baik dari orang tua, seperti “Ayo lebih bagus lagi”, “Kamu bisa lebih dari ini”, atau “Jangan sampai salah ya.”
Secara psikologis, pola asuh perfeksionis dapat membuat anak tumbuh dengan rasa takut gagal, kurang percaya diri, hingga mudah cemas. Anak menjadi khawatir melakukan sesuatu yang tidak memenuhi ekspektasi orang tua, sehingga fokus mereka bukan lagi pada proses belajar, melainkan pada hasil akhir dan bagaimana penilaian orang lain. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat mengganggu kemampuan anak untuk mengambil risiko, mengeksplorasi, atau mencoba hal-hal baru. Mereka juga mungkin menunjukkan ciri-ciri perfectionistic self-criticism, yaitu kebiasaan mengkritik diri sendiri secara berlebihan setiap kali melakukan kesalahan kecil.
Menariknya, pola asuh ini sering kali hadir tanpa disadari. Orang tua mungkin merasa sedang memberikan motivasi, padahal yang anak tangkap justru tuntutan. Fenomena ini kerap terjadi di era modern ketika standar keberhasilan anak semakin tinggi—mulai dari akademik, keterampilan, hingga perilaku sosial. Media sosial juga berperan memperkuat tekanan ini, karena orang tua sering membandingkan perkembangan anak mereka dengan anak lain.
Trivia tentang Pola Asuh Perfeksionis
-
Perfeksionisme orang tua tidak selalu berasal dari standar tinggi, tetapi sering muncul dari rasa takut—takut anak tertinggal, takut dinilai sebagai orang tua yang kurang baik, atau takut masa depan anak tidak aman.
-
Anak usia dini sebenarnya belajar paling baik ketika melakukan kesalahan, karena otak mereka bekerja aktif saat mencari solusi dari kegagalan.
-
Pujian berlebihan juga bisa menjadi pemicu perfeksionisme, terutama jika pujian hanya berfokus pada hasil (misalnya “Kamu pintar sekali!”) daripada usaha.
-
Anak dengan orang tua perfeksionis cenderung lebih sensitif terhadap kritik, meskipun kritik itu disampaikan dengan nada lembut.
-
Perfeksionisme bisa menurun antar generasi, karena anak belajar cara orang tua menilai diri sendiri dan mengulangi pola yang sama saat dewasa.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan kesempurnaan, melainkan kehangatan, penerimaan, dan ruang untuk tumbuh. Orang tua dapat mendampingi anak dengan lebih sehat melalui pola asuh yang bergeser dari “harus sempurna” menjadi “ayo belajar bersama”. Menerima bahwa kesalahan adalah bagian penting dari perkembangan bukan hanya membantu anak lebih percaya diri, tetapi juga menciptakan hubungan keluarga yang lebih hangat, damai, dan penuh dukungan.