Saat Bermain Harus Berprestasi: Dilema Pembelajaran Anak Usia Dini
Pembelajaran berbasis bermain telah lama diakui sebagai pendekatan yang paling sesuai bagi anak usia dini. Bermain memberi ruang bagi anak untuk bereksplorasi, berekspresi, dan belajar secara alami. Namun, di lapangan, pendekatan ini sering bertabrakan dengan tuntutan akademik yang semakin dini dan kaku.
Pembelajaran berbasis bermain dapat dimaknai sebagai proses belajar yang menempatkan aktivitas bermain sebagai sarana utama anak dalam memahami dunia. Melalui bermain, anak belajar bahasa, sosial, emosi, motorik, hingga kemampuan berpikir tanpa tekanan hasil yang instan.
Masalah muncul ketika orang tua dan lembaga pendidikan mulai menuntut capaian akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung sejak usia sangat muda. Tuntutan ini sering didorong oleh kekhawatiran anak tertinggal atau tidak siap masuk jenjang pendidikan berikutnya.
Sebagai contoh, anak diminta menyelesaikan lembar kerja saat seharusnya ia sedang membangun menara balok atau bermain peran. Aktivitas bermain yang kaya makna tergeser oleh target angka dan huruf yang harus dikuasai dalam waktu singkat.
Benturan ini membuat guru PAUD berada pada posisi sulit. Di satu sisi, mereka memahami pentingnya bermain sebagai dasar belajar. Di sisi lain, tekanan dari orang tua dan sistem membuat mereka harus menampilkan hasil akademik yang terlihat.
Anak pun menjadi pihak yang paling terdampak. Ketika bermain dibatasi dan diganti dengan tugas akademik, anak berisiko kehilangan motivasi belajar. Proses belajar yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi beban.
Dalam jangka panjang, tekanan akademik dini dapat memengaruhi kesehatan emosional anak. Anak bisa merasa gagal, tidak percaya diri, atau cemas saat belajar. Padahal, fondasi belajar yang kuat justru dibangun melalui pengalaman positif.
Pembelajaran berbasis bermain sebenarnya tidak bertentangan dengan kesiapan akademik. Bermain yang dirancang dengan baik justru mendukung kemampuan literasi dan numerasi secara kontekstual dan bermakna.
Peran orang tua menjadi sangat penting dalam memahami hal ini. Ketika orang tua menyadari bahwa bermain adalah belajar, ekspektasi terhadap anak menjadi lebih realistis dan selaras dengan tahap perkembangannya.
Lembaga pendidikan juga perlu membangun komunikasi yang kuat dengan keluarga. Edukasi tentang manfaat bermain dan perkembangan anak membantu mengurangi kesalahpahaman terkait capaian akademik.
Pendekatan yang seimbang antara bermain dan pengenalan akademik secara kontekstual dapat menjadi jalan tengah. Anak tetap mendapatkan stimulasi, tanpa kehilangan dunia bermainnya.
Isu ini relevan dalam pendidikan populer karena menyangkut kualitas pengalaman belajar anak. Pendidikan yang baik bukan tentang seberapa cepat anak bisa membaca, tetapi seberapa kuat ia mencintai proses belajar.
Referensi: Piaget, J. 1962. Play, Dreams, and Imitation. Vygotsky, L. S. 1978. Mind in Society. Kemdikbud. 2022. Kurikulum Merdeka PAUD.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini terkait dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-3 Good Health and Well-Being.