Rumah sebagai Arena Bermain: Peran Keluarga dalam Melestarikan Permainan Tradisional
Permainan tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya yang tumbuh bersama kehidupan keluarga. Di tengah arus modernisasi dan dominasi permainan digital, keluarga memiliki peran strategis sebagai ruang pertama dan utama untuk mengenalkan serta melestarikan permainan tradisional kepada anak.
Secara pengertian, permainan tradisional adalah aktivitas bermain yang diwariskan secara turun-temurun, menggunakan alat sederhana, serta sarat dengan nilai sosial dan budaya. Permainan ini biasanya lahir dari lingkungan sekitar dan mencerminkan cara hidup masyarakatnya.
Keluarga menjadi aktor kunci karena anak pertama kali belajar melalui interaksi di rumah. Ketika orang tua memperkenalkan permainan tradisional seperti congklak, engklek, atau gobak sodor, anak tidak hanya bermain tetapi juga menyerap nilai kebersamaan dan kesederhanaan.
Peran keluarga tidak selalu harus formal atau terstruktur. Bermain bersama anak di sore hari atau akhir pekan sudah menjadi bentuk pelestarian yang nyata. Anak merasa permainan tradisional adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar cerita masa lalu.
Contoh sederhana adalah orang tua yang mengajak anak bermain congklak sambil menghitung biji. Aktivitas ini melatih kemampuan kognitif, motorik halus, sekaligus mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua.
Selain itu, permainan tradisional mengajarkan nilai sportivitas dan pengendalian emosi. Anak belajar menerima kalah dan menang dengan wajar, sesuatu yang sangat relevan untuk perkembangan sosial-emosional anak usia dini.
Keluarga juga berperan sebagai penghubung antar generasi. Kakek dan nenek yang mengenalkan permainan masa kecil mereka membantu anak memahami bahwa permainan tradisional memiliki sejarah dan makna yang panjang.
Di lingkungan perkotaan dengan ruang terbatas, keluarga tetap dapat berkreasi. Permainan tradisional bisa dimodifikasi agar sesuai dengan ruang rumah tanpa menghilangkan esensi bermain dan nilai budayanya.
Keteladanan orang tua sangat berpengaruh. Ketika anak melihat orang tua antusias dan terlibat, anak akan memandang permainan tradisional sebagai sesuatu yang menyenangkan dan bernilai.
Kolaborasi keluarga dengan sekolah juga penting. Ketika nilai yang sama diperkuat di rumah dan di PAUD, anak akan memiliki pengalaman belajar yang konsisten dan bermakna.
Dengan demikian, keluarga bukan hanya pelestari, tetapi juga agen pewaris budaya. Melalui permainan tradisional, keluarga berkontribusi pada pendidikan karakter, kebahagiaan anak, dan keberlanjutan budaya bangsa.
Referensi:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Pelestarian Budaya Melalui Pendidikan Keluarga.
Suyadi. (2019). Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal.
UNESCO. (2018). Intangible Cultural Heritage and Family Education.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 11 Kota dan Komunitas Berkelanjutan, SDG 16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh