Pulang Sekolah Kesorean dan Tantangan Kepatuhan Anak di Rumah
Anak yang pulang sekolah pada jam sore sering kali menunjukkan perubahan perilaku saat sampai di rumah. Anak tampak lebih diam, mudah tersinggung, atau enggan merespons permintaan orang tua. Kondisi ini dapat terjadi pada anak usia sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas. Perbedaannya hanya pada bentuk respon, sementara penyebab utamanya sama, yaitu kelelahan fisik dan mental setelah menjalani aktivitas belajar seharian.
Pulang sekolah kesorean adalah kondisi ketika anak menyelesaikan kegiatan akademik hingga sore hari, baik karena jadwal pelajaran yang padat, kegiatan ekstrakurikuler, maupun jarak sekolah yang cukup jauh. Sepanjang hari, anak menghadapi tuntutan konsentrasi, aturan, target akademik, dan interaksi sosial. Ketika sampai di rumah, energi yang tersisa sering kali tidak cukup untuk langsung memenuhi tuntutan baru dari lingkungan keluarga.
Kelelahan membuat kemampuan mengendalikan diri menurun. Anak SD biasanya menunjukkan penolakan secara langsung seperti mengeluh atau menangis. Anak SMP cenderung diam, menunda, atau menjawab singkat. Anak SMA sering terlihat acuh atau menarik diri. Semua bentuk respon ini bukan tanda kurang ajar, tetapi sinyal bahwa tubuh dan pikiran anak sedang membutuhkan pemulihan.
Pola Pikir Bertumbuh dalam Mendampingi Anak
Pola pikir bertumbuh adalah cara pandang yang meyakini bahwa sikap dan perilaku anak dapat berkembang melalui proses belajar, pengalaman, dan pendampingan yang konsisten. Orang tua dengan pola pikir ini memahami bahwa kepatuhan anak tidak selalu muncul dalam kondisi yang sama, dan dapat dibentuk melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan anak pada saat tertentu.
Tips Komunikasi yang Dapat Dipraktikkan Orang Tua
- Orang tua perlu memberi jeda sebelum menyampaikan tuntutan. Saat anak baru sampai di rumah, beri waktu sekitar lima belas hingga tiga puluh menit agar anak bisa duduk, minum, atau sekadar diam. Pada fase ini, hindari pertanyaan atau perintah yang bersifat menekan.
- Gunakan kalimat pembuka yang menunjukkan perhatian, bukan instruksi. Misalnya dengan mengatakan bahwa orang tua melihat anak terlihat capek hari ini. Kalimat semacam ini membantu anak merasa diperhatikan dan menurunkan ketegangan emosional.
- Sampaikan instruksi secara bertahap dan jelas. Alih alih memberi banyak perintah sekaligus, fokus pada satu hal yang paling penting terlebih dahulu. Setelah itu baru lanjutkan ke hal berikutnya ketika anak sudah lebih siap.
- Ubah perintah menjadi ajakan yang memiliki batas. Memberi pilihan sederhana seperti waktu atau urutan kegiatan membuat anak merasa dilibatkan tanpa menghilangkan struktur yang dibutuhkan.
- Tunda pembicaraan yang bersifat evaluatif atau menegur. Nasehat, koreksi perilaku, atau diskusi akademik sebaiknya dilakukan saat anak sudah lebih segar secara fisik dan emosional, bukan saat baru sampai di rumah.
- Akhiri komunikasi dengan penguatan positif. Ketika anak mulai merespons atau mencoba mengikuti arahan, berikan apresiasi sederhana agar anak merasa usahanya dihargai.
Trivia Parenting
Kesimpulan Bagi Orang Tua
Kepatuhan anak di rumah tidak bisa dilepaskan dari kondisi fisik dan emosionalnya setelah pulang sekolah. Dengan pendekatan komunikasi yang tepat dan pola pikir bertumbuh, orang tua dapat membangun kerja sama yang lebih sehat dengan anak di setiap jenjang usia. Kepatuhan yang lahir dari pemahaman akan jauh lebih kuat dibandingkan kepatuhan yang dipaksakan.
Penulis: Nurlaili Firda Yuniar
Editor: Nurlaili Firda Yuniar
Sumber Foto: Unplash.com