Permainan Tradisional vs Digital: Mana yang Lebih Banyak Memancing Komunikasi?
Permainan merupakan bagian penting dalam perkembangan anak karena melalui bermain, anak belajar berinteraksi, mengekspresikan diri, serta membangun kemampuan sosial dan bahasa. Secara umum, permainan dapat dibedakan menjadi permainan tradisional dan permainan digital. Permainan tradisional adalah bentuk permainan yang diwariskan secara turun-temurun, biasanya dimainkan secara berkelompok, melibatkan aktivitas fisik, serta aturan yang disepakati bersama, seperti congklak, gobak sodor, engklek, atau petak umpet. Sementara itu, permainan digital adalah permainan berbasis teknologi yang dimainkan melalui gawai, komputer, atau konsol, yang sering kali bersifat individual meskipun ada juga yang menyediakan fitur daring untuk bermain bersama.
Dari sisi komunikasi, permainan tradisional memiliki karakteristik yang sangat kaya akan interaksi langsung. Anak-anak perlu berbicara untuk menjelaskan aturan, bernegosiasi, bergiliran, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik kecil yang muncul selama bermain. Proses ini secara alami melatih kemampuan bahasa, keberanian berbicara, empati, serta keterampilan sosial. Kontak mata, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh juga menjadi bagian penting dari komunikasi yang terjadi dalam permainan tradisional, sehingga anak belajar memahami pesan verbal dan nonverbal secara utuh.
Sebaliknya, permainan digital cenderung membatasi komunikasi langsung, terutama jika dimainkan secara individu. Anak lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan manusia di sekitarnya. Walaupun beberapa permainan digital menyediakan fitur chat atau voice, bentuk komunikasinya sering kali singkat, fungsional, dan tidak sedalam interaksi tatap muka. Dalam jangka panjang, jika tidak diimbangi dengan aktivitas sosial lain, permainan digital dapat mengurangi frekuensi anak berlatih komunikasi lisan, mendengarkan secara aktif, dan merespons emosi orang lain secara nyata.
Namun demikian, permainan digital tidak sepenuhnya negatif. Jika digunakan secara bijak dan didampingi, permainan digital tertentu dapat membantu anak mengenal kosakata baru, melatih kemampuan berpikir logis, serta memperkenalkan kerja sama dalam tim virtual. Kuncinya terletak pada durasi, jenis permainan, dan peran orang dewasa dalam mendampingi. Tanpa pendampingan, permainan digital berisiko menjadikan anak pasif secara sosial dan kurang terstimulasi dalam komunikasi dua arah.
Menariknya, berbagai pengamatan menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih sering terlibat dalam permainan tradisional cenderung memiliki kemampuan komunikasi lisan yang lebih baik, seperti berani berbicara, mampu menyampaikan pendapat, dan lebih responsif dalam percakapan. Hal ini terjadi karena permainan tradisional menempatkan komunikasi sebagai kebutuhan utama agar permainan dapat berjalan, bukan sekadar fitur tambahan.
Sebagai trivia, tahukah bahwa dalam permainan tradisional sederhana seperti petak umpet, anak sebenarnya sedang belajar banyak hal sekaligus? Anak belajar menyusun strategi, berkomunikasi untuk menentukan peran, membaca ekspresi teman, hingga memahami konsep kejujuran dan sportifitas. Sementara itu, dalam satu jam bermain permainan digital, anak bisa saja hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada orang di sekitarnya. Fakta ini menunjukkan bahwa jika tujuan utama bermain adalah memancing komunikasi dan keterampilan sosial, permainan tradisional masih menjadi pilihan yang sangat efektif dan relevan di tengah era digital.