Perbandingan Filosofi Montessori, Reggio Emilia, dan HighScope
Dalam dunia pendidikan anak usia dini, terdapat beberapa pendekatan yang populer dan berpengaruh, di antaranya Montessori, Reggio Emilia, dan HighScope. Ketiga filosofi ini memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan berpikir kritis—namun dengan pendekatan dan prinsip yang berbeda.
Ketiganya menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran (child-centered learning), tetapi berbeda dalam cara guru memfasilitasi, lingkungan belajar yang digunakan, dan bentuk kegiatan yang dirancang.
1. Filosofi Montessori
Definisi:
Metode Montessori dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori pada awal abad ke-20 di Italia. Pendekatan ini menekankan pada kemandirian anak, kebebasan dalam batas, serta lingkungan belajar yang tertata dengan baik. Anak diberi kesempatan memilih aktivitas sesuai minatnya, menggunakan alat-alat konkret yang dirancang untuk melatih keterampilan kognitif dan motorik.
Ciri Khas Montessori:
-
Lingkungan belajar yang tertata rapi dan terstruktur
-
Anak bebas memilih kegiatan sesuai minatnya
-
Guru berperan sebagai pengamat dan pembimbing, bukan pengajar langsung
-
Menggunakan alat peraga khas Montessori seperti bead chains, sandpaper letters, dan pink tower
Tujuan:
Menumbuhkan kemandirian, konsentrasi, dan tanggung jawab diri sejak dini.
2. Filosofi Reggio Emilia
Definisi:
Pendekatan Reggio Emilia berasal dari kota kecil di Italia pasca Perang Dunia II, dipelopori oleh Loris Malaguzzi. Filosofi ini berpijak pada keyakinan bahwa anak adalah individu yang kuat, penuh potensi, dan mampu membangun pengetahuan melalui interaksi sosial dan eksplorasi lingkungan.
Ciri Khas Reggio Emilia:
-
Anak belajar melalui proyek (project-based learning)
-
Lingkungan disebut sebagai “guru ketiga” setelah guru dan teman
-
Dokumentasi hasil karya anak menjadi alat refleksi utama
-
Kolaborasi antara guru, anak, dan orang tua
Tujuan:
Mengembangkan kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis melalui pengalaman nyata.
3. Filosofi HighScope
Definisi:
Pendekatan HighScope dikembangkan di Amerika Serikat oleh David Weikart dan timnya pada tahun 1960-an. Filosofi ini berlandaskan prinsip bahwa anak belajar paling baik melalui pengalaman langsung dengan benda, orang, dan ide.
HighScope menggunakan pendekatan “Plan–Do–Review”, yaitu anak merencanakan kegiatan, melaksanakan, lalu merefleksikan hasilnya bersama guru.
Ciri Khas HighScope:
-
Struktur harian yang jelas dan konsisten
-
Anak aktif merencanakan dan mengevaluasi kegiatan
-
Guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung proses berpikir anak
-
Penilaian dilakukan berdasarkan observasi autentik
Tujuan:
Mengembangkan kemampuan berpikir logis, tanggung jawab, dan kemandirian melalui pengalaman terencana.
Perbandingan Singkat Ketiga Filosofi
| Aspek | Montessori | Reggio Emilia | HighScope |
|---|---|---|---|
| Fokus Utama | Kemandirian dan disiplin diri | Kreativitas dan kolaborasi | Pengalaman langsung dan refleksi |
| Peran Guru | Pengamat dan pembimbing | Mitra belajar dan kolaborator | Fasilitator dan pendukung |
| Lingkungan Belajar | Tertata rapi dan terstruktur | Estetis, terbuka, dan kaya eksplorasi | Tersusun dengan rutinitas harian yang jelas |
| Cara Belajar Anak | Pilihan individu | Belajar berbasis proyek | Plan–Do–Review (rencana–aksi–refleksi) |
| Keterlibatan Orang Tua | Pendukung di rumah | Mitra aktif dalam pembelajaran | Komunikasi rutin dan reflektif |
4. Trivia Menarik tentang Ketiga Pendekatan
✨ 1. Montessori awalnya diterapkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Maria Montessori pertama kali mengembangkan metodenya untuk membantu anak dengan hambatan belajar agar dapat mandiri.
✨ 2. Reggio Emilia menekankan “100 bahasa anak”.
Konsep ini berarti anak dapat mengekspresikan dirinya melalui banyak cara—gambar, gerak, musik, dan cerita.
✨ 3. HighScope memiliki penelitian jangka panjang yang terkenal.
“Perry Preschool Study” menunjukkan bahwa anak yang belajar dengan pendekatan HighScope memiliki tingkat keberhasilan akademik dan sosial yang lebih tinggi di masa dewasa.
✨ 4. Ketiganya menolak sistem ujian atau tes formal.
Penilaian dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan catatan perkembangan anak.
✨ 5. Indonesia banyak mengadopsi elemen ketiganya.
Banyak lembaga PAUD modern memadukan prinsip Montessori (alat bantu), Reggio Emilia (eksplorasi seni), dan HighScope (rutinitas harian terencana).