Peran Orang Tua sebagai Model: Dampak Distracted Parenting terhadap Anak
Peran orang tua sebagai model merupakan fondasi utama dalam perkembangan anak, karena anak belajar bukan hanya dari instruksi verbal, tetapi terutama dari apa yang ia amati setiap hari. Dalam psikologi perkembangan, orang tua dipandang sebagai role model primer, yaitu figur pertama yang membentuk cara anak berkomunikasi, mengelola emosi, memecahkan masalah, hingga membangun relasi sosial. Sikap, kebiasaan, dan respons orang tua—termasuk cara menggunakan gawai—secara tidak langsung menjadi “kurikulum hidup” yang diserap anak melalui proses peniruan (observational learning).
Distracted parenting merujuk pada kondisi ketika perhatian orang tua terpecah akibat gangguan, terutama perangkat digital seperti ponsel, media sosial, atau pekerjaan daring, saat sedang berinteraksi dengan anak. Gangguan ini sering kali tampak sepele—sekadar membalas pesan atau melihat notifikasi—namun secara kumulatif dapat mengurangi kualitas kehadiran emosional orang tua. Anak mungkin tetap ditemani secara fisik, tetapi kehilangan respons mata, ekspresi wajah, dan respons verbal yang hangat, yang sejatinya sangat dibutuhkan untuk perkembangan sosial-emosional.
Dampak distracted parenting pada anak tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan jangka panjang. Anak yang sering mengalami interaksi terputus cenderung menunjukkan peningkatan perilaku mencari perhatian, kesulitan mengatur emosi, hingga menurunnya kemampuan bahasa dan empati. Hal ini terjadi karena otak anak—terutama pada usia dini—sangat bergantung pada interaksi timbal balik untuk membangun jalur saraf yang berkaitan dengan regulasi emosi, rasa aman, dan kelekatan.
Sebagai model, orang tua juga tanpa sadar mengajarkan standar perilaku terkait penggunaan teknologi. Anak yang melihat orang tuanya sering terdistraksi gawai akan memaknai bahwa layar lebih penting daripada manusia di sekitarnya. Pola ini kemudian direplikasi dalam kehidupan anak, misalnya dengan menurunnya kemampuan fokus, kecenderungan multitasking berlebihan, dan kesulitan membangun relasi yang mendalam. Dengan kata lain, perilaku orang tua hari ini adalah cetak biru kebiasaan digital anak di masa depan.
Trivia menariknya, penelitian menunjukkan bahwa bayi dan anak usia dini dapat mendeteksi perubahan perhatian orang tua hanya dalam hitungan detik. Saat orang tua menoleh ke layar, ekspresi wajah dan intonasi suara ikut berubah, dan perubahan kecil ini sudah cukup membuat anak merasa “diabaikan”. Fakta lainnya, kualitas interaksi singkat namun penuh perhatian jauh lebih berdampak bagi perkembangan anak dibandingkan durasi lama kebersamaan yang disertai distraksi. Ini menegaskan bahwa kehadiran orang tua tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari utuhnya perhatian yang diberikan.
Pada akhirnya, menyadari peran orang tua sebagai model berarti memahami bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari—seperti meletakkan ponsel saat berbicara dengan anak—memiliki efek besar bagi tumbuh kembangnya. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir secara sadar, responsif, dan konsisten. Dari sinilah anak belajar tentang nilai perhatian, empati, dan hubungan manusia yang sehat.