Peran Komite PAUD dan Dukungan Aktif Keluarga terhadap Proses Pendidikan Anak.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas tidak bisa hanya bergantung pada guru dan kepala sekolah. Di balik keberhasilan proses belajar anak, terdapat pilar penting yang sering kali kurang disorot: Komite PAUD dan dukungan aktif dari keluarga. Di era Kurikulum Merdeka dan tuntutan Parental Involvement yang tinggi, Komite PAUD telah bertransformasi dari sekadar badan pengumpul dana menjadi mitra strategis dalam tata kelola dan peningkatan mutu layanan pendidikan. Tanpa sinergi kuat antara sekolah dan keluarga, capaian perkembangan anak, baik kognitif maupun sosial-emosional, tidak akan optimal.
Definisi Kunci: Komite PAUD adalah badan independen yang dibentuk dan beranggotakan orang tua/wali murid, tokoh masyarakat, dan pemerhati pendidikan, yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi, fasilitator, dan pengawas dalam peningkatan mutu pendidikan di satuan PAUD. Fungsinya melampaui pengumpulan dana, mencakup pemberian pertimbangan kebijakan dan pengawasan mutu.
Tiga Peran Vital Komite dan Keluarga
Keterlibatan aktif Komite PAUD dan keluarga memecah beban tanggung jawab dari sekolah. Peran mereka dapat dikelompokkan menjadi tiga domain utama:
Pengawasan dan Evaluasi Mutu: Komite PAUD berperan memastikan alokasi dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) digunakan secara transparan dan efektif. Mereka juga memberikan feedback konstruktif mengenai kurikulum dan kinerja guru, sehingga PAUD dapat mencapai standar Kualitas Layanan Pendidikan yang optimal.
Fasilitator dan Inovator: Komite mendorong inovasi. Misalnya, Komite dapat memfasilitasi pelatihan untuk guru tentang Trauma-Informed Education atau mencari sumber daya eksternal untuk mengembangkan program STEAM yang membutuhkan alat peraga spesifik.
Dukungan Aktif (Parental Involvement): Keluarga adalah pendidik pertama dan utama. Dukungan aktif di sini berarti partisipasi dalam kegiatan PAUD, penguatan pembelajaran di rumah, dan menjaga konsistensi disiplin positif.
Contoh Praktis dalam Konteks PAUD
Di banyak PAUD rintisan atau yang berlokasi di daerah dengan keterbatasan, peran Komite sangat nyata:
Penyediaan Sarana Belajar: Komite PAUD di sebuah desa di Jawa Timur berhasil menggalang dana lokal dan tenaga sukarela untuk membangun Area Bermain Taktil yang menggunakan bahan alam (loose parts), mengatasi keterbatasan anggaran sekolah untuk membeli alat peraga mahal.
Program Parenting Berbasis Bukti: Komite bekerja sama dengan Kepala Sekolah untuk mendatangkan psikolog atau parenting coach guna memberikan sesi edukasi rutin kepada orang tua tentang Socio-Emotional Learning (SEL), membantu orang tua memahami cara mengelola tantrum anak.
Dukungan Pangan Lokal: Komite mengatur jadwal partisipasi orang tua dalam program School Feeding Programs (Pemberian Makanan Tambahan), memastikan makanan yang disajikan adalah Nutrient-Rich Foods dari hasil panen lokal yang aman.
Trivia Menarik: Penelitian menunjukkan bahwa Keterlibatan Ayah (Father's Involvement) yang tinggi di kegiatan PAUD melalui Komite atau kegiatan sekolah secara langsung berkorelasi positif dengan Prestasi Akademik dan Regulasi Emosi anak, sekaligus meningkatkan Kepuasan Kerja Guru.
Menuju Sinergi Holistik
Kualitas pendidikan anak usia dini yang diidamkan dalam konsep PAUD Holistik Integratif (HI) hanya akan tercapai jika semua pihak, terutama keluarga, bekerja bersama. Dukungan Komite PAUD dan partisipasi aktif orang tua mengubah PAUD dari sekadar lembaga pendidikan menjadi Pusat Komunitas Belajar yang utuh. Ini adalah investasi jangka panjang, bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk menciptakan Sistem Perlindungan Anak yang kuat dan lingkungan pengasuhan yang suportif. Memperkuat Komite PAUD adalah langkah fundamental menuju peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.