PAUD Korea vs Kurikulum Merdeka: Siapa Lebih Memihak Kemandirian Anak?
Di Korea Selatan, pendidikan usia dini — lewat daycare atau kindergarten sebelum sekolah dasar — dikenal menanamkan kebiasaan kemandirian sejak awal. Banyak anak di sana terbiasa merapikan mainan sendiri, memakai alas kaki mereka, membawa tas sendiri, atau membantu bersih-bersih ruang ketika daycare usai. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sejak dini anak dilatih untuk aktif dan mandiri dalam menjaga lingkungan sekitarnya. (Kompas)
Lebih jauh, sistem pendidikan Korea umumnya sangat terstruktur; namun di usia PAUD dan awal SD, ada ruang bagi anak untuk belajar melalui kehidupan sehari-hari, interaksi sosial, dan tanggung jawab kecil. Misalnya, sebelum masuk SD, anak-anak yang sebelumnya di daycare sudah diperkenalkan aktivitas sederhana seperti menulis huruf sendiri, bersosialisasi, atau membiasakan kebiasaan hidup mandiri. (Kompas)
Sementara itu di Indonesia, dengan hadirnya Kurikulum Merdeka, arah PAUD mulai berubah. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berpusat anak (child-centered), fleksibilitas, dan kesempatan eksplorasi melalui permainan, proyek tematik, serta interaksi kontekstual sesuai lingkungan lokal. (paud.fip.unesa.ac.id)
Dalam konteks kemandirian, Kurikulum Merdeka mendorong anak untuk aktif, bereksplorasi, dan mengambil inisiatif dalam pembelajaran mereka — bukan sekadar menerima instruksi. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pengarah mutlak, sehingga anak diberi ruang untuk mencoba, berkreasi, bahkan gagal dan belajar dari kesalahan. (paud.fip.unesa.ac.id)
Misalnya, di PAUD yang menerapkan Kurikulum Merdeka, anak bisa memilih aktivitas berdasarkan minat mereka— misalnya mengeksplorasi pasir, membuat karya seni, bermain peran, atau observasi alam. Aktivitas bebas itu memungkinkan anak belajar regulasi diri, kreativitas, dan kerjasama dalam kelompok maupun individu. (Abidan)
Perbandingan ini menunjukkan bahwa kedua sistem memberi peluang bagi kemandirian anak — meskipun dengan cara berbeda. Korea menanamkan kemandirian lewat rutinitas dan tanggung jawab harian sejak kecil. Indonesia melalui Kurikulum Merdeka mencoba memberi ruang eksplorasi, kreativitas, dan inisiatif sejak usia dini.
Namun tantangan nyata di Indonesia adalah kesiapan guru, fasilitas, dan lingkungan. Implementasi Kurikulum Merdeka di banyak PAUD masih membutuhkan pelatihan guru, penataan ruang, serta kerjasama dengan orang tua agar filosofi child-centered bisa berjalan optimal. (Jurnal Univ PGRI Palembang)
Bagi orang tua dan pendidik, perbandingan ini bisa menjadi inspirasi. Tidak perlu meniru secara mentah, tetapi adaptasi aspek baik dari kedua sistem bisa memperkaya pendidikan anak: dari Korea, kita bisa belajar kedisiplinan dan tanggung jawab; dari Kurikulum Merdeka, kita bisa menjaga fleksibilitas, kreativitas, dan kemerdekaan bereksplorasi.
Kesimpulannya, kemandirian anak terbaik muncul ketika anak mendapatkan kombinasi pengalaman: tanggung jawab kecil sehari-hari, kebebasan eksplorasi, dukungan guru/fasilitator, serta lingkungan yang mendukung. Sistem PAUD Korea dan Kurikulum Merdeka masing-masing menawarkan jalannya. Bagian kita adalah menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan anak di Indonesia.