Panduan Mengenal dan Mengatasi Tantrum: Kapan Harus Khawatir?
Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya ditunjukkan anak melalui tangisan keras, menjerit, berguling, memukul, atau menolak komunikasi. Tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan anak usia 1–5 tahun karena pada fase ini kemampuan bahasa, regulasi emosi, dan kontrol diri belum matang. Anak sering kali meluapkan rasa frustrasinya lewat perilaku tersebut ketika mereka tidak mampu menyampaikan kebutuhan atau perasaannya secara verbal.
Mengapa Tantrum Terjadi?
Tantrum muncul karena berbagai faktor, antara lain:
-
Keterbatasan kemampuan komunikasi, sehingga anak frustasi ketika keinginannya tidak dipahami.
-
Kelelahan atau rasa lapar, yang memicu ketidaknyamanan emosional.
-
Keinginan untuk mandiri, terutama pada fase “aku bisa sendiri!”.
-
Stimulasi berlebihan, seperti lingkungan yang terlalu bising atau ramai.
-
Perubahan rutinitas, misalnya tidur yang kurang atau jadwal aktivitas yang tidak konsisten.
Tantrum bukan berarti anak nakal. Ini adalah proses belajar mengelola emosi yang membutuhkan pendampingan dan pemahaman dari orang dewasa.
Cara Mengatasi Tantrum dengan Bijak
-
Tetap tenang dan hadir
Anak membutuhkan contoh regulasi emosi. Ketika orang dewasa tenang, anak lebih mudah menurunkan intensitas emosinya. -
Validasi perasaan anak
Katakan bahwa Anda memahami perasaannya, seperti “Mama tahu kamu marah karena ingin main lebih lama.” -
Berikan ruang aman
Jika tantrum semakin kuat, pastikan anak berada di tempat yang aman tanpa risiko menyakiti diri sendiri atau orang lain. -
Alihkan perhatian
Pada anak yang lebih kecil, pengalihan dengan aktivitas positif sering kali efektif. -
Berikan batasan yang konsisten
Konsistensi membantu anak memahami aturan, seperti waktu tidur, screen time, atau penggunaan sesuatu yang diinginkan. -
Ajak bicara setelah anak tenang
Diskusikan perasaan yang dirasakan dan cara lain untuk mengekspresikannya. Ini membantu perkembangan kemampuan sosial-emosionalnya.
Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?
Meskipun tantrum adalah bagian normal dari perkembangan, ada kondisi tertentu yang perlu mendapat perhatian khusus, misalnya:
-
Tantrum berlangsung sangat lama, lebih dari 15–20 menit.
-
Terjadi sangat sering, hingga mengganggu rutinitas harian.
-
Anak melukai diri sendiri atau orang lain saat tantrum.
-
Tantrum terjadi tanpa pemicu yang jelas.
-
Perkembangan lain turut terhambat, seperti bicara, interaksi sosial, atau motorik.
-
Tidak ada peningkatan regulasi emosi seiring bertambahnya usia.
Jika hal-hal tersebut terjadi, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog anak, dokter anak, atau ahli perkembangan untuk evaluasi lebih lanjut.
Trivia Menarik tentang Tantrum
-
Tantrum biasanya mencapai puncaknya pada usia 2–3 tahun, kemudian menurun setelah usia 4 tahun karena kemampuan berbahasa semakin matang.
-
Tantrum adalah reaksi biologis, di mana bagian otak yang mengatur emosi (amigdala) lebih aktif daripada bagian yang mengatur logika (prefrontal cortex).
-
Tantrum berbeda dengan manipulasi, karena tantrum terjadi saat anak kehilangan kontrol. Manipulasi terjadi saat anak tenang dan sengaja menggunakan emosi untuk mendapatkan sesuatu.
-
Anak yang sering diajak berbicara tentang perasaan cenderung mengalami tantrum lebih singkat dan lebih jarang.
-
Durasi rata-rata tantrum normal hanya sekitar 3 menit, meskipun bagi orang tua bisa terasa jauh lebih lama!