Orang Tua Baru dan Keterasingan Sosial
Menjadi orang tua baru sering dibayangkan sebagai fase penuh kebahagiaan dan kehangatan keluarga. Namun di balik itu, banyak orang tua baru justru mengalami keterasingan sosial yang tidak terucap. Perubahan peran yang drastis, tanggung jawab baru, dan ritme hidup yang berbeda membuat relasi sosial perlahan menjauh.
Orang tua baru dapat dipahami sebagai individu atau pasangan yang sedang berada pada fase awal membesarkan anak, khususnya pada masa bayi dan anak usia dini. Pada fase ini, fokus hidup bergeser hampir sepenuhnya pada kebutuhan anak, sering kali mengorbankan kebutuhan sosial dan emosional diri sendiri.
Keterasingan sosial merujuk pada perasaan terputus dari lingkungan sosial, merasa sendiri, dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. Pada orang tua baru, keterasingan ini dapat muncul meskipun mereka dikelilingi keluarga atau aktif di media sosial.
Perubahan rutinitas menjadi salah satu pemicu utama. Waktu tidur yang tidak menentu, aktivitas di rumah yang berulang, dan keterbatasan waktu untuk bersosialisasi membuat orang tua baru jarang bertemu teman atau mengikuti kegiatan sosial seperti sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang ibu atau ayah baru mungkin harus menolak undangan pertemuan karena jadwal tidur anak. Lama-kelamaan, komunikasi dengan teman berkurang dan rasa canggung untuk kembali terlibat mulai muncul. Situasi ini memperkuat perasaan terisolasi.
Media sosial sering dianggap sebagai solusi untuk tetap terhubung, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Melihat unggahan orang lain yang tampak bahagia dan produktif justru dapat memicu perasaan tertinggal dan tidak cukup baik sebagai orang tua.
Keterasingan sosial juga berkaitan dengan perubahan identitas diri. Dari individu yang aktif dan mandiri, orang tua baru menghadapi identitas baru yang penuh tuntutan. Proses adaptasi ini tidak selalu diiringi dukungan sosial yang memadai.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, kondisi emosional orang tua berpengaruh besar. Orang tua yang merasa terasing cenderung mengalami kelelahan emosional, yang dapat memengaruhi kualitas interaksi, stimulasi, dan pendampingan belajar anak di rumah.
Dukungan sosial menjadi kebutuhan penting, bukan pelengkap. Kehadiran komunitas orang tua, kelompok bermain, atau forum diskusi dapat membantu orang tua baru merasa dimengerti dan tidak sendirian dalam menjalani peran barunya.
Lembaga PAUD juga dapat berperan sebagai ruang sosial yang aman bagi orang tua. Komunikasi yang hangat, kegiatan bersama, dan pendekatan kolaboratif antara guru dan orang tua membantu membangun rasa keterhubungan.
Keterasingan sosial bukan kelemahan pribadi, melainkan respons manusiawi terhadap perubahan besar dalam hidup. Dengan dukungan yang tepat, orang tua baru dapat kembali membangun jejaring sosial yang sehat.
Memahami keterasingan sosial pada orang tua baru berarti membuka ruang empati dalam sistem pengasuhan dan pendidikan. Orang tua yang merasa terhubung akan lebih mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Referensi: Arnett, J. J. 2015. Emerging Adulthood. Nelson, S. K., et al. 2014. Parenting and Well-Being. Kemdikbud. 2021. Pendidikan Keluarga pada Anak Usia Dini.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
Artikel ini terkait dengan SDGs tujuan ke-3 Good Health and Well-Being serta tujuan ke-4 Quality Education yang menekankan kesejahteraan keluarga dan peran orang tua dalam pendidikan awal.