Mitos Video Edukasi: Apakah Benar Membantu Kognitif atau Hanya Stimulasi Visual?
ideo edukasi sering didefinisikan sebagai media pembelajaran berbasis audiovisual yang dirancang untuk menyampaikan konsep, pengetahuan, atau keterampilan tertentu melalui gambar bergerak, suara, dan narasi. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, video edukasi kerap diposisikan sebagai solusi praktis untuk memperkenalkan angka, huruf, bahasa, hingga konsep sains sederhana. Banyak orang tua dan pendidik meyakini bahwa semakin sering anak terpapar video edukasi, maka semakin cepat pula perkembangan kognitifnya. Namun, definisi “edukatif” pada video sering kali hanya merujuk pada isi konten, bukan pada cara otak anak memproses pengalaman belajar tersebut.
Secara kognitif, pembelajaran yang efektif pada anak usia dini tidak hanya bergantung pada apa yang dilihat dan didengar, tetapi juga pada keterlibatan aktif anak dalam berpikir, bertanya, mencoba, dan berinteraksi. Video edukasi cenderung bersifat satu arah, di mana anak berperan sebagai penerima pasif. Kondisi ini menimbulkan mitos bahwa paparan visual dan audio yang kaya sudah cukup untuk merangsang kemampuan berpikir. Padahal, tanpa pendampingan, dialog, atau aktivitas lanjutan, stimulasi yang terjadi lebih dominan bersifat sensorik daripada kognitif mendalam.
Salah satu isu yang jarang disadari adalah dominasi stimulasi visual dalam video edukasi. Warna cerah, animasi cepat, dan efek suara yang menarik memang mampu mempertahankan perhatian anak, tetapi belum tentu mendukung proses berpikir tingkat tinggi seperti penalaran, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Dalam beberapa kasus, otak anak justru terbiasa pada rangsangan instan, sehingga kurang terlatih untuk fokus pada aktivitas yang membutuhkan usaha mental lebih lama, seperti mendengarkan cerita tanpa visual atau bermain peran secara langsung.
Trivia menarik dalam dunia pendidikan anak usia dini menunjukkan bahwa anak dapat mengingat lebih banyak kosakata baru ketika belajar melalui interaksi langsung dengan orang dewasa dibandingkan hanya menonton video edukasi dengan materi yang sama. Fakta lain yang jarang diketahui adalah bahwa otak anak lebih aktif pada area bahasa dan fungsi eksekutif ketika mereka diajak berdiskusi tentang isi video, bukan saat menontonnya secara pasif. Bahkan, penelitian juga menemukan bahwa jeda layar yang disertai aktivitas fisik dan sosial dapat memberikan dampak kognitif yang lebih positif dibandingkan durasi layar yang panjang meskipun berlabel “edukatif”.
Dengan demikian, video edukasi bukanlah sepenuhnya mitos atau sepenuhnya solusi. Video dapat menjadi alat pendukung pembelajaran kognitif apabila digunakan secara terbatas, terarah, dan disertai interaksi bermakna. Tanpa konteks pedagogis yang tepat, video edukasi berisiko hanya menjadi sumber stimulasi visual yang menyenangkan, tetapi minim kontribusi terhadap perkembangan kognitif anak secara mendalam.