Mewaspadai Infiltrasi Konten Dewasa dalam Animasi Anak
Paparan video pendek bertema animasi kini menjadi konsumsi harian yang sulit dihindari oleh anak usia dini karena kemudahannya diakses melalui gawai. Namun, di balik visual yang penuh warna dan karakter yang tampak lucu, sering kali terselip konten yang tidak sesuai usia, seperti adegan ciuman atau perilaku dewasa lainnya yang dikemas dalam bentuk kartun. Fenomena ini menciptakan risiko besar karena anak-anak pada fase usia ini merupakan peniru ulung yang belum mampu membedakan mana perilaku yang bersifat pribadi dan mana yang boleh dilakukan di ruang publik. Secara psikologis, paparan adegan dewasa yang terus-menerus dalam format animasi dapat mengaburkan batasan moral anak, sehingga mereka menganggap tindakan tersebut sebagai hal yang wajar dan patut dicontoh dalam interaksi sosial sehari-hari.
Dampak negatif dari tayangan kartun berisi konten dewasa ini sangat memengaruhi perkembangan psikoseksual dan emosional anak. Ketika anak melihat adegan dewasa, otak mereka merekam informasi tersebut sebagai sebuah referensi perilaku, yang jika tidak segera diklarifikasi, dapat memicu rasa penasaran seksual prematur. Selain itu, format video pendek yang cepat memberikan stimulasi dopamin berlebih yang dapat memperpendek rentang konsentrasi anak dan memicu kecanduan layar. Anak yang terpapar konten amoral dalam animasi juga berisiko mengalami distorsi realitas, di mana mereka kehilangan rasa malu yang sehat karena menganggap adegan vulgar adalah bagian dari hiburan biasa. Hal ini tentu mengancam kemurnian masa kanak-kanak dan integritas karakter yang sedang dibangun di lingkungan rumah maupun sekolah.
Meskipun konten tersebut berbahaya, terdapat sisi positif yang bisa diambil jika orang tua mampu melakukan pendampingan aktif atau co-viewing. Kehadiran konten yang tidak sengaja terputar ini dapat dijadikan sarana diskusi untuk membangun literasi digital dan edukasi seksual dini yang tepat. Dengan menjelaskan bahwa adegan tersebut tidak boleh ditiru, orang tua sebenarnya sedang melatih kemampuan berpikir kritis anak agar mereka tidak menelan mentah-mentah apa yang ada di layar. Upaya pencegahan yang paling efektif adalah dengan melakukan kurasi ketat terhadap kanal yang ditonton, mengaktifkan fitur pembatasan konten, dan yang terpenting adalah membangun komunikasi yang terbuka. Orang tua harus menjadi filter pertama dan utama sebelum algoritma internet merusak nilai-nilai moral yang telah ditanamkan dalam keluarga.
💡 Trivia Menarik!
Tahukah Anda? Anak usia dini memiliki apa yang disebut dengan "Mirror Neurons" (sel saraf cermin) di otak mereka yang bekerja sangat aktif. Sel inilah yang menyebabkan anak secara otomatis "mencerminkan" atau meniru ekspresi, gerakan, bahkan adegan ciuman yang mereka lihat di kartun, seolah-olah mereka sendiri yang melakukannya. Inilah alasan mengapa pengawasan orang tua jauh lebih penting daripada sekadar memberikan gawai untuk membuat anak diam.
Penulis:
Nurlaili Firda Yuniar, Mahasiswa S1 PGPAUD, Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
Sumber:
- Hidayah, N., & Saputra, A. (2023). Urgensi Literasi Media Digital bagi Orang Tua dalam Menangkal Konten Amoral pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha, 11(2), 210-221.
Kusuma, W. A., et al. (2024). Implementasi Parental Control dalam Mengurangi Risiko Paparan Konten Dewasa pada Platform Video Pendek. Jurnal Teknologi dan Informasi Pendidikan, 17(1), 55-68.
Putri, R. E. (2023). Analisis Dampak Visual Animasi terhadap Perilaku Sosial Anak Generasi Alpha di Indonesia. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(4), 4890-4902.
Susanti, D. (2025/In-Press). Strategi Pendampingan Digital: Membangun Filter Mandiri pada Anak Usia Dini di Era Algoritma. Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies, 14(1).