Metode Fonik vs Metode Eja: Mana yang Lebih Efektif untuk Anak?
Kemampuan membaca merupakan fondasi penting dalam perkembangan literasi anak. Proses belajar membaca dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, dua di antaranya yang paling dikenal adalah metode fonik dan metode eja. Keduanya memiliki tujuan yang sama—membantu anak mengenali huruf dan kata—namun pendekatan dan efektivitasnya berbeda. Lalu, metode mana yang lebih baik untuk anak?
1. Definisi Metode Fonik
Metode fonik (phonics method) adalah pendekatan belajar membaca yang menekankan pada hubungan antara huruf dan bunyinya (fonem). Anak diajarkan untuk mengidentifikasi bunyi tiap huruf dan kemudian menggabungkannya menjadi kata.
Misalnya, kata “mata” dibaca dengan mengenali bunyi /m/ - /a/ - /t/ - /a/ yang kemudian disatukan menjadi mata.
Kelebihan metode fonik:
-
Membantu anak memahami struktur bunyi dalam bahasa.
-
Membentuk dasar kuat untuk membaca kata baru.
-
Efektif bagi anak dengan gaya belajar auditori dan kinestetik.
Contoh aktivitas fonik:
Anak mendengar suara huruf dan mencoba mencocokkannya dengan kartu bergambar (misalnya huruf b dengan gambar bola).
2. Definisi Metode Eja
Metode eja (spelling method) adalah cara belajar membaca dengan mengeja huruf demi huruf untuk membentuk kata. Anak biasanya diajarkan nama huruf terlebih dahulu, bukan bunyinya.
Contohnya, kata “buku” diajarkan dengan cara be-u-ka-u, buku.
Kelebihan metode eja:
-
Membantu anak mengenali nama huruf dengan cepat.
-
Mudah diterapkan oleh guru dan orang tua tanpa alat bantu khusus.
-
Cocok untuk anak yang sudah familiar dengan abjad.
Namun, metode ini bisa membuat anak lebih lambat memahami hubungan antara huruf dan bunyi, sehingga terkadang membaca menjadi mekanis tanpa pemahaman suara.
3. Perbandingan Efektivitas
Penelitian menunjukkan bahwa metode fonik cenderung lebih efektif dalam membangun kemampuan membaca permulaan, terutama bagi anak usia dini. Hal ini karena fonik membantu anak mengenali pola bunyi dalam kata, yang merupakan dasar untuk membaca lancar dan memahami teks.
Namun demikian, kombinasi antara kedua metode sering kali menjadi strategi terbaik. Anak bisa belajar mengenal nama huruf melalui metode eja, kemudian memahaminya lebih dalam dengan fonik agar bisa membaca dengan lancar dan memahami maknanya.
4. Tips untuk Orang Tua dan Guru
-
Gunakan lagu atau permainan bunyi huruf untuk memperkenalkan fonik secara menyenangkan.
-
Ajarkan huruf dengan konteks visual dan bunyi (misal: A untuk ayam, bunyinya /a/ seperti saat kita bilang “apa”).
-
Jika menggunakan metode eja, imbangi dengan latihan mendengar bunyi huruf, agar anak tidak hanya menghafal.
-
Pastikan proses belajar tidak dipaksakan, karena kesiapan tiap anak berbeda.
Trivia Menarik
-
📚 Metode fonik pertama kali dipopulerkan di Inggris pada abad ke-19 sebagai respons terhadap rendahnya kemampuan membaca anak sekolah dasar.
-
🔤 Anak yang belajar dengan metode fonik biasanya dapat membaca kata baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, karena mereka memahami pola bunyinya.
-
🧠 Metode eja lebih tua dari fonik dan digunakan secara luas di Indonesia sejak masa kolonial melalui pelajaran “mengeja abjad”.
-
🎵 Lagu-lagu anak seperti “A, B, C” sebenarnya lebih cocok untuk pendekatan metode eja, sedangkan lagu yang menekankan bunyi huruf mendukung metode fonik.
-
💡 Kombinasi metode eja dan fonik dapat meningkatkan reading fluency (kelancaran membaca) hingga 30% lebih cepat, menurut beberapa studi pendidikan dasar modern.