Mengelola Sampah Plastik Kota Berbasis SDG Lewat Pembelajaran PAUD.
Isu sampah plastik perkotaan adalah tantangan global yang memerlukan solusi struktural dan perubahan perilaku. Di Indonesia, di mana tingkat produksi sampah terus meningkat, intervensi harus dimulai sejak usia paling dini. Melibatkan anak usia dini (AUD) melalui lembaga PAUD bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler, melainkan strategi kunci untuk mencapai SDG Target 11.6 – mengurangi dampak lingkungan negatif perkotaan, termasuk pengelolaan sampah. Dengan menyentuh aspek pendidikan dan kesadaran lingkungan di PAUD, kita membangun generasi yang secara inheren bertanggung jawab terhadap krisis lingkungan yang mereka hadapi.
Definisi Kunci: SDG Target 11.6 adalah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) ke-11 yang berfokus pada upaya mengurangi dampak lingkungan negatif per kapita di kota-kota, dengan perhatian khusus pada pengelolaan sampah kota dan kualitas udara pada tahun 2030.
Pembelajaran PAUD memiliki peran unik karena pada usia ini, anak paling mudah menyerap nilai dan membentuk kebiasaan. Konsep pengelolaan sampah yang abstrak diubah menjadi kegiatan konkret. Inilah saatnya memperkenalkan konsep Hierarki Sampah (Waste Hierarchy) secara sederhana: Reduce, Reuse, Recycle (3R). PAUD mengajarkan bahwa Reduce berarti membawa botol minum sendiri (mengurangi sampah), Reuse berarti mengubah botol bekas menjadi mainan (upcycling), dan Recycle berarti memilah sampah sesuai jenisnya. Keterlibatan aktif ini akan melekat hingga mereka dewasa dan menciptakan norma baru di lingkungan keluarga.
Contoh Praktis di PAUD: Guru dapat memulai dengan kegiatan "Pahlawan Sampah". Anak-anak diajak memilah sampah plastik dari bekal mereka ke tempat sampah berwarna (misalnya, biru untuk plastik). Sampah plastik yang bersih kemudian digunakan untuk proyek Upcycling, seperti membuat kotak pensil dari botol bekas atau mozaik dari tutup botol. Kegiatan ini sekaligus mengintegrasikan mata pelajaran seni, matematika (menghitung tutup botol), dan sains (mengamati proses daur ulang sederhana), mendukung tercapainya PAUD Holistik Integratif.
Trivia Menarik: Riset menunjukkan bahwa anak-anak yang aktif terlibat dalam kegiatan Environmental Awareness di sekolah cenderung memengaruhi kebiasaan ramah lingkungan orang tua mereka di rumah. Fenomena ini disebut "Keterlibatan Intergenerasional" – anak menjadi agen perubahan bagi keluarga.
Selain mengubah perilaku, PAUD juga mendorong pengembangan Digital Tools dan teknologi. Guru dapat menggunakan aplikasi sederhana untuk mencatat jumlah sampah plastik yang berhasil didaur ulang oleh kelas setiap minggunya, mengubahnya menjadi 'permainan data' yang mendidik. Pendekatan berbasis data ini sejalan dengan tuntutan riset S3 PAUD, di mana evaluasi program harus didukung metrik yang terukur. Keterlibatan dalam isu sampah plastik juga menumbuhkan Global Citizenship Education (GCED), mengajarkan anak bahwa aksi lokal kecil mereka memiliki dampak global.
Pada akhirnya, solusi untuk krisis sampah plastik kota tidak terletak pada teknologi canggih semata, melainkan pada pembangunan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertanggung jawab. Dengan menjadikan pengelolaan sampah berbasis SDG sebagai bagian integral dari kurikulum PAUD, kita tidak hanya membersihkan kota saat ini, tetapi juga menginvestasikan pada generasi masa depan yang melihat sampah bukan sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya. PAUD adalah garda terdepan dalam memastikan kota-kota kita berkelanjutan dan layak huni pada tahun 2030.