Mengatasi Parental Anxiety: Langkah Praktis Menghadapi Anak yang Belum Bicara
Parental anxiety adalah bentuk kecemasan yang dialami orang tua terkait tumbuh kembang anak, terutama ketika anak tidak menunjukkan perkembangan sesuai dengan ekspektasi atau standar usia, salah satunya ketika anak belum mulai berbicara. Kondisi ini wajar terjadi karena orang tua memiliki naluri protektif dan harapan besar terhadap masa depan anak. Namun, kecemasan yang berlebihan justru dapat memengaruhi kualitas interaksi orang tua dengan anak dan menghambat proses perkembangan bahasa itu sendiri.
Anak yang belum bicara sering kali membuat orang tua membandingkan dengan anak lain seusianya, padahal perkembangan bahasa setiap anak bersifat unik. Beberapa anak mengalami keterlambatan bicara karena faktor stimulasi yang kurang, perbedaan gaya belajar, temperamen, bilingualisme, hingga faktor biologis. Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa keterlambatan bicara tidak selalu menandakan gangguan perkembangan, tetapi tetap perlu diobservasi secara cermat.
Langkah praktis pertama untuk mengatasi parental anxiety adalah dengan membangun pemahaman yang tepat tentang tahapan perkembangan bahasa anak. Orang tua perlu mengetahui bahwa kemampuan bicara berkembang secara bertahap, dimulai dari kontak mata, ocehan, menunjuk, hingga kata bermakna. Dengan memahami proses ini, orang tua dapat lebih fokus pada kemajuan kecil yang dicapai anak, bukan hanya pada kemampuan berbicara secara verbal.
Langkah berikutnya adalah menciptakan lingkungan yang kaya stimulasi bahasa. Orang tua dapat sering mengajak anak berbicara, membacakan buku cerita, bernyanyi, dan merespons setiap usaha komunikasi anak, baik melalui suara, gerakan, maupun ekspresi wajah. Interaksi yang hangat dan konsisten akan membantu anak merasa aman dan termotivasi untuk berkomunikasi, sekaligus membantu orang tua merasa lebih berdaya dalam mendampingi anak.
Mengelola emosi orang tua juga menjadi kunci penting. Orang tua perlu memberi ruang pada diri sendiri untuk merasa khawatir tanpa menyalahkan diri atau anak. Berbagi cerita dengan pasangan, komunitas orang tua, atau tenaga pendidik dapat membantu meredakan kecemasan. Jika kekhawatiran terus berlanjut, konsultasi dengan tenaga profesional seperti dokter anak atau terapis wicara dapat menjadi langkah bijak dan menenangkan.
Sebagai trivia menarik, penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering diajak berbicara dengan ekspresi emosional positif cenderung memiliki perkembangan bahasa yang lebih baik, meskipun mereka terlambat mengucapkan kata pertama. Fakta lainnya, anak memahami bahasa jauh lebih awal daripada kemampuan mereka untuk mengucapkannya, sehingga anak yang tampak “diam” sebenarnya bisa saja sedang menyerap banyak informasi. Menyadari hal ini dapat membantu orang tua lebih tenang dan optimis dalam mendampingi anak melalui proses tumbuh kembangnya.