berita terkait
- Anak dan Kebutuhan Validasi dari Orang Tua: Pondasi Emosi yang Sering Terlupa
- Mendengarkan Anak Tanpa Menghakimi: Kunci Komunikasi Sehat di Rumah
- Anak Belajar dari Cara Orang Tua Menyelesaikan Konflik: Sekolah Emosi Dimulai dari Rumah
- Keseimbangan Peran Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan: Kunci Harmoni Tumbuh Kembang Anak
- Kedekatan Emosional Ayah dan Dampaknya pada Anak: Peran Sunyi yang Menguatkan Masa Depan
Kurang gerak atau physical inactivity pada anak usia dini adalah kondisi ketika anak tidak memperoleh cukup aktivitas fisik yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan tubuhnya. Di era digital saat ini, fenomena ini semakin meningkat seiring dengan tingginya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di lingkungan pendidikan. Anak-anak yang terlalu banyak duduk, menatap layar, atau bermain secara pasif cenderung mengalami penurunan kebugaran, masalah konsentrasi, serta keterlambatan perkembangan motorik kasar maupun halus. Pada dasarnya, anak usia dini membutuhkan gerak aktif setiap hari untuk mendukung kekuatan otot, kesehatan jantung, koordinasi tubuh, dan perkembangan kognitif.
Trivia menarik: Penelitian menunjukkan bahwa anak usia dini idealnya membutuhkan setidaknya 180 menit aktivitas fisik setiap hari, termasuk gerakan intensitas sedang hingga berat. Namun, survei global UNICEF dan WHO menemukan bahwa lebih dari 40% anak usia prasekolah kini menghabiskan lebih banyak waktu di depan layar dibanding waktu bergerak, terutama di keluarga urban. Selain itu, aktivitas fisik terbukti meningkatkan kualitas tidur anak hingga 30% dan berkontribusi positif pada perkembangan kemampuan sosial dan emosional mereka. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa kebutuhan tubuh anak untuk bergerak bukan hanya penting, tetapi merupakan fondasi dasar pertumbuhan mereka.
Untuk mengatasi masalah kurang gerak di era digital, orang tua dan pendidik perlu menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas fisik secara rutin dan menyenangkan. Di rumah, orang tua dapat membuat jadwal harian yang mengombinasikan waktu bermain bebas, permainan aktif seperti lompat-lompatan atau bersepeda, serta membatasi screen time sesuai rekomendasi WHO, yaitu maksimal satu jam per hari untuk anak usia 2–5 tahun. Di sekolah, pendidik PAUD dapat merancang kegiatan berbasis gerak seperti senam kreatif, permainan tradisional, atau proyek outdoor yang melibatkan eksplorasi lingkungan. Mengintegrasikan gerak dalam pembelajaran—seperti berhitung sambil melompat atau bernyanyi sambil bergerak—juga menjadi strategi efektif untuk menstimulasi kemampuan motorik sekaligus meningkatkan pemahaman konsep.
Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan keluarga memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan aktif pada anak. Guru dapat memberikan lembar panduan aktivitas fisik yang dapat dilakukan orang tua di rumah, sedangkan keluarga dapat mendukung dengan menyediakan ruang gerak yang aman dan memotivasi anak untuk terlibat dalam permainan fisik setiap hari. Dengan menciptakan kebiasaan bergerak sejak dini, anak tidak hanya memperoleh manfaat kesehatan, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih fokus, percaya diri, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menghadapi era digital bukan berarti menghindari teknologi, tetapi menyeimbangkan penggunaannya agar tidak mengorbankan kebutuhan esensial anak untuk bergerak dan berkembang secara optimal.