Mengapa Tradisi Lisan Perlu Dikenalkan pada Anak?
Di tengah derasnya arus digital, tradisi lisan sering kali tenggelam oleh konten instan yang cepat lewat di layar. Padahal, sebelum ada sekolah formal, buku cetak, atau video animasi, manusia belajar melalui cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut. Tradisi lisan bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi jembatan emosional dan intelektual bagi anak untuk memahami dunia. Mengenalkan tradisi lisan pada anak berarti membuka pintu imajinasi, identitas, dan nilai budaya yang sulit ditemukan di media modern.
Ketika anak mendengarkan cerita rakyat seperti Timun Mas, Jaka Tarub, atau legenda Banyuwangi, mereka sedang belajar memahami struktur cerita, tokoh, konflik, dan pesan moral. Tanpa disadari, mereka mengembangkan kemampuan literasi sejak dini. Cerita lisan menumbuhkan rasa ingin tahu, melatih daya ingat, dan membantu anak menenun makna dari setiap peristiwa yang mereka dengar.
Manfaat tradisi lisan tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga emosional. Cerita yang dibacakan atau dituturkan secara langsung menciptakan pengalaman yang intim antara anak dan pendongeng—entah itu orang tua, guru, atau kakek-nenek. Misalnya, seorang nenek yang rutin membacakan cerita Panji kepada cucunya bukan hanya menyampaikan narasi, tetapi memberikan rasa aman, kedekatan, dan kehangatan yang sulit tergantikan oleh video animasi YouTube.
Secara sosial, tradisi lisan memperkuat rasa kebersamaan. Di beberapa desa, anak-anak masih berkumpul di teras rumah atau balai desa untuk mendengarkan tokoh masyarakat bercerita tentang sejarah desa mereka. Praktik seperti ini membangun identitas kolektif sekaligus mengajar anak untuk mendengarkan dengan sabar, menunggu giliran berbicara, dan menghargai cerita orang lain.
Tradisi lisan juga memberikan kesempatan bagi anak untuk mengenal nilai budaya lokal yang mungkin tidak mereka temui dalam buku sekolah. Contohnya cerita asal-usul nama suatu daerah, mitos tentang mata air, atau kisah pahlawan lokal. Setiap cerita biasanya membawa pesan moral, seperti keberanian, kesetiaan, kerja keras, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi bekal karakter yang penting di masa tumbuh kembang anak.
Dari sisi bahasa, tradisi lisan memperkaya kosakata anak. Cerita yang disampaikan dalam bahasa daerah membantu anak mengenal keberagaman linguistik. Mereka belajar ungkapan khas, intonasi, dan ritme bahasa yang natural. Bahkan, mendengarkan cerita dalam bahasa daerah dapat memperkuat identitas budaya dan mencegah hilangnya bahasa lokal.
Selain itu, tradisi lisan merangsang imajinasi kreatif. Tidak ada visual instan seperti video atau gambar; anak harus membangun gambaran di dalam pikirannya sendiri. Misalnya, ketika mendengar cerita tentang naga penjaga gunung, anak mungkin membayangkan sosok naga yang berbeda satu sama lain. Kreativitas seperti ini berkontribusi pada kemampuan berpikir simbolik dan orisinalitas ide.
Contoh lain datang dari kelas PAUD. Guru yang menggunakan dongeng lokal dalam pembelajaran akan melihat bagaimana anak-anak lebih terlibat, bertanya, dan menanggapi. Mereka merasa cerita tersebut dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ini yang disebut pembelajaran kontekstual, di mana anak memaknai materi melalui pengalaman budaya yang relevan dengan lingkungan mereka.
Tradisi lisan juga mengajarkan keterampilan berbicara. Anak yang sering mendengarkan cerita biasanya lebih berani menceritakan kembali dengan versinya sendiri. Kegiatan ini melatih kemampuan public speaking, struktur logis, dan rasa percaya diri sejak dini.
Pada akhirnya, mengenalkan tradisi lisan kepada anak bukan sekadar melestarikan budaya, tetapi menopang perkembangan intelektual, emosional, sosial, dan bahasa mereka. Di zaman digital, justru tradisi lisan menjadi penyeimbang yang menyehatkan—menghubungkan anak dengan akar budayanya sekaligus membuka dunia baru yang penuh imajinasi.