Mengapa Orangtua Juga Perlu Belajar Tentang Emosi?
Banyak orangtua tumbuh dengan pesan “jangan cengeng”, “tahan saja”, atau “marah itu tidak baik”. Karena itu, ketika sudah dewasa dan punya anak, tak sedikit yang merasa bingung menghadapi emosi—baik emosi dirinya sendiri maupun emosi si kecil. Padahal, perkembangan emosi anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana orangtua memproses dan mengekspresikan emosinya. Inilah alasan sederhana mengapa orangtua juga perlu belajar tentang emosi.
Ketika orangtua memahami emosi, mereka lebih mudah mengenali apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Misalnya, di tengah kesibukan bekerja, rumah berantakan, dan anak merengek, wajar jika muncul rasa jengkel. Namun, alih-alih meledak, orangtua yang sudah mengenali emosinya bisa berhenti sejenak, menarik napas, lalu merespons dengan lebih tenang. Ini bukan tentang menjadi sempurna, melainkan lebih sadar terhadap diri sendiri.
Belajar emosi juga membuat orangtua lebih peka terhadap perasaan anak. Anak yang menangis bukan hanya “drama”; sering kali mereka sedang kewalahan karena tidak bisa mengontrol apa yang ada di sekelilingnya. Contohnya, anak usia 3 tahun yang tiba-tiba tantrum karena susunya tumpah. Orang dewasa tahu itu masalah sepele, tapi bagi mereka itu kehilangan besar. Ketika orangtua mengerti hal ini, responsnya akan lebih penuh empati.
Dalam keluarga, cara orangtua berinteraksi secara emosional akan menjadi model bagi anak. Anak belajar cara menghadapi frustrasi, mengelola kemarahan, dan mengekspresikan kebahagiaan dengan melihat orangtuanya. Jika orangtua terbiasa bicara jujur tentang perasaan—misalnya “Ayah sedang lelah, ya, kita istirahat sebentar”—anak akan meniru pola tersebut. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka dan percaya diri secara emosional.
Selain itu, belajar tentang emosi membantu orangtua menjalin hubungan yang lebih harmonis dengan pasangannya. Konflik rumah tangga sering kali terjadi karena kesalahpahaman, bukan kebencian. Ketika orangtua saling memahami perasaan masing-masing, proses komunikasi menjadi lebih lembut, dan keputusan yang diambil lebih bijak.
Tidak kalah penting, pengelolaan emosi orangtua berpengaruh langsung pada kesehatan mental anak. Studi dari Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa stres yang berkepanjangan pada orangtua dapat menular kepada anak melalui pola interaksi sehari-hari. Anak yang tumbuh dengan orangtua yang mudah marah atau sering tersinggung cenderung mengalami kecemasan dan ketakutan dalam jangka panjang.
Lalu, bagaimana cara orangtua mulai belajar emosi? Salah satu cara termudah adalah memberi nama pada perasaan sendiri: “Aku sedang cemas”, “Aku merasa tersinggung”, atau “Aku sedih hari ini”. Memberi nama emosi membantu otak memprosesnya dengan lebih baik. Atau, bisa juga dengan berbagi cerita dengan pasangan, sahabat, atau psikolog jika dibutuhkan.
Contoh lain yang sederhana adalah menggunakan teknik jeda 10 detik. Ketika merasa ingin marah, berhenti sejenak, tarik napas dalam, lalu baru bicara. Teknik ini sering dipraktikkan dalam mindful parenting dan terbukti mampu menurunkan intensitas konflik antara orangtua dan anak.
Pada akhirnya, belajar tentang emosi bukan hanya untuk menjadi orangtua yang lebih baik, tetapi juga manusia yang lebih sehat secara psikologis. Ketika orangtua mampu mengelola emosinya, suasana rumah menjadi lebih hangat, nyaman, dan aman bagi anak. Dan dari rumah yang tenang inilah, anak-anak belajar menjadi pribadi yang berdaya.