Mengapa Anak Sulit Makan (Picky Eater): Kaitan dengan Perkembangan Motorik Oral
Picky eater atau perilaku memilih-milih makanan merupakan kondisi ketika anak menolak jenis, tekstur, atau rasa makanan tertentu, bahkan makanan yang sebelumnya disukai. Perilaku ini sering muncul pada masa toddler dan usia prasekolah sebagai bagian dari perkembangan. Namun, banyak orang tua dan guru tidak menyadari bahwa salah satu faktor utama penyebab anak sulit makan bukan hanya karena “manja” atau “pilih-pilih”, tetapi juga berkaitan erat dengan perkembangan motorik oral—yakni kemampuan otot mulut, lidah, bibir, dan rahang dalam mengunyah, mengisap, menggigit, serta menelan.
Motorik oral berkembang secara bertahap sejak bayi. Jika perkembangan ini terhambat, anak dapat mengalami kesulitan mengunyah makanan bertekstur kasar, menggigit potongan besar, atau menelan dengan nyaman. Sensitivitas oral yang tinggi juga bisa membuat anak merasa tidak nyaman terhadap tekstur tertentu, sehingga mereka cenderung menolak makanan yang terasa “aneh” di lidah atau sulit dikunyah. Misalnya, ada anak yang hanya mau makan bubur halus, menolak sayur berserat, atau gag reflex (refleks muntah) muncul ketika mencoba tekstur baru. Ketika tubuh mereka “merasa tidak mampu”, penolakan pun muncul sebagai mekanisme perlindungan diri.
Selain faktor motorik oral, picky eating juga dipengaruhi pengalaman makan awal, pola interaksi saat makan, hingga tekanan berlebihan dari orang dewasa. Ketika anak dipaksa makan, mereka dapat membentuk asosiasi negatif terhadap aktivitas makan. Sebaliknya, jika pengalaman makan kaya sensori dan menyenangkan, anak lebih terbuka untuk mencoba tekstur dan rasa baru. Oleh sebab itu, memahami hubungan antara perkembangan motorik oral dan perilaku makan sangat penting untuk mencegah masalah makan jangka panjang.
Peran guru dan orang tua sangat besar dalam membantu anak mengatasi picky eating. Untuk orang tua, penting memberikan kesempatan eksplorasi makanan melalui finger food, permainan sensori dengan bahan makanan, serta memberi contoh makan yang sehat tanpa paksaan. Orang tua dapat memperkenalkan makanan baru secara bertahap, misalnya dengan memulai dari tekstur yang paling mirip dengan makanan yang sudah disukai anak. Menyajikan makanan dengan variasi warna, bentuk, dan aroma juga dapat meningkatkan ketertarikan anak. Selain itu, pola makan teratur—termasuk jadwal makan dan camilan yang konsisten—membantu tubuh anak membentuk rasa lapar alami.
Untuk guru di PAUD, strategi yang dapat dilakukan meliputi menyediakan kegiatan sensori terkait makanan, seperti mengenal buah melalui sentuhan, penciuman, dan pengamatan sebelum makan. Guru juga dapat mengajak anak terlibat dalam kegiatan memasak sederhana (cooking class), misalnya membuat salad buah atau sandwich. Ketika anak berpartisipasi dalam proses menyiapkan makanan, mereka cenderung lebih tertarik untuk mencobanya. Selain itu, suasana makan yang positif tanpa ancaman atau tekanan membantu anak lebih percaya diri saat mencoba makanan baru. Guru juga bisa berkolaborasi dengan orang tua untuk memantau perkembangan motorik oral dan perilaku makan anak secara konsisten.
Trivia tentang picky eater: Tahukah Anda bahwa anak perlu 10–15 kali paparan terhadap makanan baru sebelum mereka benar-benar menerima dan menyukainya? Jadi, jika anak menolak makanan pada percobaan pertama, itu bukan tanda bahwa mereka benar-benar tidak suka—mereka mungkin hanya butuh waktu beradaptasi. Fun fact lainnya, kemampuan mengunyah yang baik sebenarnya sangat berkaitan dengan perkembangan bicara. Otot-otot yang digunakan untuk mengunyah juga digunakan untuk menghasilkan bunyi bahasa. Maka, makanan bertekstur tepat dapat mendukung perkembangan bicara anak.
Memahami picky eating dari perspektif perkembangan motorik oral membantu guru dan orang tua memberikan dukungan yang tepat, tidak menyalahkan anak, dan menciptakan pengalaman makan yang positif. Dengan pendekatan yang hangat, konsisten, dan berbasis perkembangan, anak dapat membangun keterampilan makan yang sehat dan menyenangkan. Jika ditemukan tanda keterlambatan motorik oral yang signifikan, bekerja sama dengan tenaga profesional seperti terapis wicara atau okupasi akan memberikan hasil yang lebih optimal bagi perkembangan anak.