Mengapa Anak Sering Bertanya “Kenapa?” dan Cara Menjawabnya
Jika Anda hidup bersama anak usia 3–6 tahun, Anda mungkin pernah merasa seperti sedang diinterogasi. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, rangkaian pertanyaan seolah tidak berhenti: “Kenapa awan putih?”, “Kenapa ayam kok bersuara?”, “Kenapa aku harus tidur?”, “Kenapa nggak boleh makan es terus?”. Pada titik tertentu, orang tua bisa merasa lelah atau kewalahan. Namun sebenarnya, fase “kenapa?” ini justru salah satu tanda paling sehat dari perkembangan anak.
Pada usia prasekolah, otak anak sedang berkembang sangat cepat. Mereka mulai memahami hubungan sebab-akibat, mencoba menebak dunia, dan mencari pola dari hal-hal yang mereka lihat. Pertanyaan “kenapa?” adalah bentuk eksplorasi. Anak tidak hanya ingin mengetahui jawaban, tetapi juga sedang belajar berpikir kritis. Jadi ketika anak bertanya “Kenapa hujan turun?”, mereka sebenarnya sedang memproses konsep kompleks tentang alam.
Terkadang, pertanyaan anak muncul berulang meski sudah dijawab sebelumnya. Ini bukan berarti mereka tidak mendengarkan. Justru, mereka sedang mencoba memverifikasi informasi, memastikan konsistensi, dan menguatkan pemahaman. Sama seperti orang dewasa yang membaca ulang sesuatu agar benar-benar paham, anak pun melakukan hal serupa—hanya saja lewat bertanya.
Ada juga pertanyaan yang muncul karena mereka ingin memastikan perasaan. Misalnya, “Kenapa ibu marah tadi?” atau “Kenapa aku harus minta maaf?”. Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa anak mulai belajar membaca emosi dan memahami norma sosial. Ini kesempatan baik bagi orang tua untuk mengajarkan empati dan regulasi emosi.
Menjawab pertanyaan anak tidak harus rumit. Orang tua tidak perlu memberikan penjelasan ilmiah panjang seperti guru fisika. Misalnya, ketika anak bertanya, “Kenapa air panas beruap?”, cukup jawab, “Karena airnya hangat banget sampai berubah jadi asap air. Itu namanya uap.” Jawaban singkat dan sederhana sudah cukup memberi gambaran.
Namun, penting untuk tidak mematikan rasa ingin tahu anak dengan kalimat seperti “Udah, jangan tanya terus”, “Pokoknya begitu”, atau “Karena mama bilang begitu”. Kalimat seperti ini bisa membuat anak berpikir bahwa pertanyaan mereka tidak penting. Padahal, anak-anak belajar melalui dialog, bukan dengan menerima instruksi tanpa penjelasan.
Mengubah pertanyaan menjadi percakapan dua arah bisa membuat momen ini lebih menyenangkan. Misalnya, ketika anak bertanya, “Kenapa bunga bisa mekar?”, Anda bisa balik bertanya, “Menurut kamu, kenapa ya?” Setelah anak menjawab dengan imajinasinya yang unik—misalnya, “Karena bunganya bahagia”—barulah Anda memberikan penjelasan sederhana. Cara ini mengajarkan anak berpikir sebelum bertanya.
Salah satu strategi lain adalah menggunakan buku cerita, gambar, atau video edukatif. Misalnya, ada beberapa buku “Mengapa” khusus anak usia prasekolah yang menjawab pertanyaan dengan ilustrasi menarik. Anak sering lebih memahami penjelasan ketika ada visual yang mendukung. Ini juga membantu orang tua yang kadang bingung harus menjawab bagaimana.
Dalam beberapa kasus, anak bertanya “kenapa?” bukan karena ingin jawaban, tetapi karena mereka ingin diperhatikan. Pertanyaan menjadi jembatan komunikasi. Jadi jangan heran jika mereka bertanya hal yang sebenarnya sudah mereka tahu jawabannya. Yang mereka inginkan adalah interaksi, kehadiran, dan kedekatan.
Menghadapi fase ini memang melelahkan, tetapi ini adalah fase yang penting. Anak yang banyak bertanya cenderung lebih percaya diri, lebih kritis, dan lebih berani mencari informasi saat dewasa. Jadi, ketika anak Anda bertanya “kenapa?” untuk ke-30 kalinya hari itu, ingatlah bahwa itu adalah tanda tumbuh kembang yang baik. Anda sedang membesarkan penjelajah kecil yang sedang memetakan dunianya.