Mengajarkan Anak Berbagi: Kapan dan Bagaimana Caranya?
Berbagi adalah kemampuan sosial penting yang mencerminkan empati, kepedulian, dan kemampuan memahami kebutuhan orang lain. Dalam konteks anak usia dini, berbagi berarti mau memberikan sebagian dari apa yang dimiliki—baik mainan, makanan, maupun perhatian—kepada teman atau orang lain secara sukarela.
Namun, berbagi bukanlah kemampuan yang muncul secara instan. Anak perlu waktu, contoh, dan bimbingan untuk memahami makna berbagi. Bagi anak usia 2–3 tahun, konsep “milikku” masih sangat kuat karena mereka sedang berada pada tahap egosentris. Sekitar usia 4–5 tahun, anak mulai memahami bahwa orang lain juga memiliki perasaan dan keinginan, sehingga kemampuan berbagi mulai berkembang.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengajarkan Anak Berbagi?
Mengajarkan berbagi sebaiknya dimulai sejak dini, tetapi disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
-
Usia 2–3 tahun: Anak mulai dikenalkan dengan konsep berbagi melalui kegiatan sederhana seperti bermain bersama dan saling bergantian. Pada usia ini, fokus bukan pada “memaksa berbagi,” tetapi menanamkan pemahaman.
-
Usia 4–5 tahun: Anak mulai mampu memahami keadilan dan empati, sehingga orang tua atau guru dapat mencontohkan berbagi dalam situasi nyata, misalnya berbagi camilan atau alat permainan.
-
Usia 6 tahun ke atas: Anak sudah dapat berdiskusi tentang alasan mengapa berbagi itu penting, misalnya agar semua orang bisa merasa senang atau membantu teman yang membutuhkan.
Bagaimana Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi
-
Berikan Teladan Nyata
Anak belajar paling efektif melalui contoh. Orang tua dan guru dapat menunjukkan perilaku berbagi, seperti memberikan makanan kepada tetangga atau meminjamkan barang dengan senang hati. -
Gunakan Permainan Kolaboratif
Pilih permainan yang mendorong kerja sama dan berbagi peran, misalnya bermain puzzle bersama, membangun balok, atau bermain peran (role play). -
Berikan Pujian Saat Anak Mau Berbagi
Pujian positif seperti “Ibu senang kamu mau berbagi mainan dengan teman” akan memperkuat perilaku baik dan membuat anak merasa dihargai. -
Bacakan Cerita tentang Berbagi
Buku cerita bergambar dengan tokoh yang suka berbagi dapat membantu anak memahami konsep berbagi secara emosional dan kontekstual. -
Jangan Memaksa Anak untuk Berbagi
Paksaan dapat membuat anak merasa kehilangan atau tidak aman. Lebih baik ajak anak berdiskusi, “Bagaimana kalau kita bergantian main ya?” agar anak belajar berbagi dengan rasa rela.
Mengapa Mengajarkan Berbagi Itu Penting
Berbagi bukan hanya soal membagi barang, tetapi juga tentang menumbuhkan rasa empati, keadilan, dan kerja sama. Anak yang terbiasa berbagi cenderung lebih mudah menjalin pertemanan, memahami perasaan orang lain, dan memiliki sikap sosial yang positif di masa depan.
Trivia Seru tentang Berbagi
-
💡 Tahukah kamu? Anak usia 3 tahun biasanya masih sulit berbagi karena otaknya belum sepenuhnya memahami perspektif orang lain.
-
🧠 Fakta ilmiah: Aktivitas berbagi dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin, yaitu hormon yang menimbulkan rasa bahagia dan keterikatan sosial.
-
🎲 Fun fact: Bermain permainan bergantian (seperti “ular tangga”) adalah cara alami bagi anak untuk belajar berbagi giliran dan mengendalikan diri.
-
❤️ Menariknya, anak yang terbiasa melihat orang dewasa berbagi di rumah lebih cepat meniru perilaku tersebut dibanding anak yang hanya diberi nasihat tanpa contoh.