Menanam Cinta Budaya Sejak Dini: Pelestarian Seni Daerah Bali Melalui PAUD
Pelestarian seni daerah Bali tidak bisa dilepaskan dari peran pendidikan anak usia dini sebagai fondasi awal pembentukan karakter dan identitas budaya. PAUD menjadi ruang strategis untuk mengenalkan seni Bali secara alami, menyenangkan, dan sesuai dengan dunia anak.
Secara pengertian, seni daerah Bali mencakup berbagai bentuk ekspresi budaya seperti tari, musik gamelan, seni rupa, dan tradisi lisan yang hidup dalam keseharian masyarakat. Seni ini tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga sarat makna spiritual, sosial, dan filosofis.
PAUD memiliki peran penting karena pada usia dini anak berada pada fase emas perkembangan. Anak mudah menyerap nilai, kebiasaan, dan simbol budaya melalui pengalaman langsung, termasuk melalui kegiatan seni yang bersifat bermain sambil belajar.
Pelestarian seni Bali melalui PAUD dapat dilakukan dengan pendekatan sederhana, misalnya memperkenalkan gerak dasar tari Bali yang lembut dan ekspresif. Anak tidak dituntut untuk tampil sempurna, melainkan menikmati proses bergerak dan berekspresi.
Contoh lain yang relevan adalah penggunaan musik gamelan Bali dalam kegiatan harian di kelas. Irama gamelan yang khas dapat digunakan sebagai pengiring kegiatan relaksasi, bermain peran, atau bernyanyi bersama, sehingga anak akrab dengan bunyi tradisional sejak dini.
Seni rupa Bali juga dapat diperkenalkan melalui kegiatan menggambar motif sederhana, mewarnai pola khas Bali, atau membuat karya kolase bertema alam dan upacara adat. Aktivitas ini melatih motorik halus sekaligus memperkaya wawasan budaya anak.
Bahasa dan cerita rakyat Bali menjadi bagian penting dari pelestarian seni daerah. Guru dapat membacakan cerita rakyat dengan gaya bercerita yang ekspresif, sehingga anak mengenal tokoh, nilai moral, dan kearifan lokal Bali.
Keterlibatan guru sebagai fasilitator sangat menentukan keberhasilan pelestarian seni melalui PAUD. Guru perlu memiliki pemahaman dasar tentang seni Bali dan mampu mengemasnya dalam kegiatan yang ramah anak dan tidak membebani.
Kolaborasi dengan seniman lokal dan keluarga juga menjadi kekuatan utama. Ketika anak melihat orang tua dan masyarakat sekitar terlibat, seni daerah tidak lagi terasa asing, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pelestarian seni Bali melalui PAUD juga berkontribusi pada pembentukan identitas dan rasa bangga terhadap budaya sendiri. Anak tumbuh dengan kesadaran bahwa budayanya bernilai dan layak dijaga.
Dengan pendekatan yang tepat, PAUD tidak hanya menjadi tempat belajar akademik dasar, tetapi juga ruang hidup bagi keberlanjutan seni dan budaya Bali. Inilah investasi jangka panjang untuk menjaga warisan budaya tetap hidup di generasi mendatang.
Referensi:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Pendidikan Berbasis Budaya Lokal.
Suyadi. (2019). Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Budaya.
UNESCO. (2018). Safeguarding Intangible Cultural Heritage Through Education.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 11 Kota dan Komunitas Berkelanjutan, SDG 16 Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh