Menanam Akar Sejak Kecil: Pelestarian Budaya Melalui PAUD
Pelestarian budaya melalui PAUD menjadi isu penting di tengah derasnya arus globalisasi yang masuk ke kehidupan anak sejak usia dini. Anak-anak kini tumbuh dengan paparan budaya digital dan global, sehingga pendidikan anak usia dini memiliki peran strategis untuk menjaga agar nilai budaya lokal tetap hidup dan bermakna.
Secara pengertian, pelestarian budaya melalui PAUD adalah upaya sadar dan terencana untuk mengenalkan, menanamkan, dan membiasakan nilai-nilai budaya lokal kepada anak usia dini melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Budaya dipahami tidak hanya sebagai tarian atau pakaian adat, tetapi juga bahasa, nilai, kebiasaan, dan cara hidup.
PAUD menjadi ruang yang ideal karena anak belajar melalui bermain dan meniru. Ketika anak dikenalkan lagu daerah, permainan tradisional, atau cerita rakyat, mereka tidak merasa sedang “belajar budaya”, melainkan sedang menikmati pengalaman yang menyenangkan. Dari sinilah proses pelestarian berlangsung secara alami.
Contoh sederhana dapat dilihat ketika guru mengajak anak bermain engklek, congklak, atau lompat tali. Permainan ini bukan hanya melatih motorik, tetapi juga mengenalkan nilai kebersamaan, giliran, dan sportivitas yang merupakan bagian dari budaya lokal.
Bahasa daerah juga memiliki peran penting dalam pelestarian budaya di PAUD. Penggunaan sapaan sederhana atau kosakata ringan dalam bahasa daerah membantu anak mengenal identitas lokal tanpa mengganggu penguasaan bahasa nasional.
Lingkungan belajar yang kaya budaya memperkuat pesan ini. Hiasan kelas berupa motif batik, alat musik tradisional, atau sudut baca cerita rakyat menjadikan budaya hadir secara visual dan kontekstual dalam keseharian anak.
Guru memegang peran kunci sebagai penghubung budaya. Sikap guru yang bangga terhadap budaya lokal dan mampu mengemasnya secara kreatif akan menular kepada anak. Guru tidak harus menjadi ahli budaya, tetapi cukup menjadi fasilitator yang terbuka dan konsisten.
Pelestarian budaya melalui PAUD juga melibatkan keluarga. Ketika sekolah dan orangtua bekerja sama, misalnya dengan kegiatan hari budaya atau berbagi cerita tradisi keluarga, anak mendapatkan pengalaman yang utuh antara rumah dan sekolah.
Di era modern, pelestarian budaya bukan berarti menolak hal baru. PAUD dapat memadukan budaya lokal dengan pendekatan modern, seperti menggunakan media digital untuk memperkenalkan tarian daerah atau cerita rakyat animasi yang ramah anak.
Pelestarian budaya sejak dini membangun rasa identitas dan kebanggaan pada anak. Anak yang mengenal budayanya cenderung memiliki kepercayaan diri dan sikap terbuka terhadap budaya lain.
Dalam jangka panjang, PAUD berkontribusi pada keberlanjutan budaya bangsa. Nilai yang ditanamkan sejak dini akan tumbuh bersama anak dan menjadi bagian dari cara mereka memandang dunia.
Pelestarian budaya melalui PAUD pada akhirnya adalah investasi sosial dan kultural. Dari ruang kelas kecil, nilai besar tentang jati diri dan keberlanjutan diwariskan ke generasi berikutnya.
Referensi:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya.
UNESCO. (2017). Culture and Education for Sustainable Development.
Suyadi. (2019). Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kearifan Lokal.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai.
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 11 Kota dan Komunitas Berkelanjutan, SDG 16 Perdamaian dan Masyarakat Inklusif