Memahami Sensory Processing Disorder (SPD) Sederhana: Kenapa Anak Tidak Mau Sentuh Kotor?
Sebagian anak terlihat enggan menyentuh benda-benda tertentu seperti pasir, tanah, cat, bubur tepung, atau bahan bermain sensori lainnya. Mereka bisa langsung menarik tangan, menangis, atau bahkan menolak bermain sama sekali. Perilaku ini sering membuat orang tua atau guru bertanya-tanya: Apakah ini tanda manja? Takut kotor? Atau ada yang sedang terjadi? Salah satu penjelasan yang relevan adalah Sensory Processing Disorder (SPD).
Sensory Processing Disorder (SPD) adalah kondisi ketika otak mengalami kesulitan memproses dan merespon informasi yang datang dari pancaindra. Anak dengan SPD bukan tidak mau menyentuh sesuatu karena keras kepala, tetapi karena sensasi yang dirasakan oleh kulit, telinga, mata, atau indera lainnya terasa terlalu kuat, terlalu lemah, atau berbeda dibandingkan anak lain. Dalam konteks tidak mau menyentuh benda yang kotor atau bertekstur tertentu, anak mungkin mengalami tactile defensiveness, yaitu kondisi ketika sentuhan tertentu terasa mengganggu atau menimbulkan ketidaknyamanan ekstrem.
Beberapa tanda umum anak yang mengalami sensitivitas sentuhan adalah menolak menyentuh slime, pasir, tanah, atau makanan tertentu; merasa gelisah saat tangan kotor; tidak suka memakai baju atau sepatu dengan bahan tertentu; atau mudah kaget jika disentuh. Namun, penting diingat bahwa sensitivitas sensori bukan berarti anak memiliki gangguan perilaku. Itu hanyalah cara unik otak mereka merespons dunia.
Untuk mendukung anak dengan SPD atau sensitivitas sensori, guru dan orang tua dapat menerapkan beberapa strategi yang lembut dan bertahap. Guru dapat menyediakan aktivitas sensori dengan tingkat tekstur yang bergradasi, mulai dari yang paling nyaman seperti kapas, air, atau biji kering, kemudian perlahan menuju pada pasir basah atau cat jari. Berikan pilihan: anak boleh mengamati, memegang alat bantu seperti kuas, atau menyentuh sedikit demi sedikit tanpa paksaan. Orang tua di rumah dapat menerapkan pendekatan serupa, misalnya memperkenalkan aktivitas dapur seperti meremas adonan atau bermain busa sabun dengan cara yang menyenangkan. Berikan pujian ketika anak mencoba hal baru tanpa membandingkan dengan teman sebaya.
Membangun rutinitas juga membantu. Anak dengan sensitivitas sentuhan akan lebih nyaman jika mereka tahu kapan aktivitas sensori akan terjadi. Penggunaan visual schedule di kelas atau di rumah dapat mencegah rasa kaget. Guru dapat menyediakan area sensori yang aman dan menenangkan, serta membolehkan anak mencuci tangan kapan pun mereka merasa tidak nyaman. Dukungan emosional juga penting: validasi perasaan anak membuat mereka merasa aman dan percaya diri untuk mencoba hal baru.
Trivia menarik: Tahukah Anda bahwa sekitar 5–16% anak diperkirakan memiliki tantangan dalam pemrosesan sensori? Dan SPD bukan hanya tentang tidak suka kotor — beberapa anak justru mencari sensasi lebih, misalnya ingin memegang benda lengket berulang kali. Selain itu, aktivitas seperti memanjat, mendorong benda berat, atau berenang termasuk proprioceptive input yang dapat membantu menstabilkan respons sensori anak yang sensitif.