Melihat Potensi Bukan Kekurangan: Asesmen Positif di Dunia PAUD
Sumber : ChatGPT AI
Asesmen positif di dunia PAUD bukan sekadar menilai apa yang anak bisa atau tidak bisa lakukan, tetapi melihat potensi, kekuatan, dan cara unik setiap anak dalam belajar. Pendekatan ini berfokus pada growth mindset—bahwa setiap anak terus berkembang jika mendapat dukungan dan apresiasi. Guru tidak hanya mencatat hasil akhir, tetapi juga proses, seperti bagaimana anak bereaksi, berusaha, dan berinteraksi saat bermain.
Asesmen positif dilakukan secara alami di tengah aktivitas bermain. Guru menjadi pengamat aktif yang mencatat momen penting: saat anak berbagi, bereksperimen, atau menunjukkan rasa ingin tahu. Dari situ, guru bisa memahami minat dan gaya belajar anak tanpa membuat mereka merasa dihakimi.
Menariknya, pendekatan ini juga memperkuat hubungan emosional antara guru dan anak. Anak merasa dihargai, lebih percaya diri, dan berani mencoba hal baru. Selain itu, asesmen positif menjadi cermin bagi guru untuk mengevaluasi metode mengajarnya agar lebih inklusif dan mendukung keberagaman anak.
✨ Trivia:
-
Beberapa PAUD di Finlandia dan Selandia Baru menggunakan “cerita belajar” (learning stories) sebagai bentuk asesmen.
-
Kesalahan anak dilihat sebagai bagian dari proses belajar, bukan kegagalan.
-
Anak usia dini dapat melakukan refleksi sederhana, seperti menceritakan perasaannya setelah bermain atau berkarya.
Dengan asesmen positif, guru PAUD bukan sekadar menilai, tetapi menemukan dan menumbuhkan potensi terbaik setiap anak.