Mandiri Sejak Dini: Membandingkan Kurikulum PAUD Jepang dan Indonesia
Di Jepang, pendidikan anak usia dini (PAUD) memiliki tradisi kuat dalam menumbuhkan kemandirian sejak usia sangat muda. Di banyak taman kanak-kanak Jepang — baik yōchien (TK) maupun hoikuen (daycare) — anak dilatih untuk melakukan hal-hal sederhana sendirian sejak awal: merapikan mainan, memakai sepatu sendiri, memasang tas sendiri, dan bahkan membantu membereskan kelas bersama teman. (sekolahdijepang.com)
Ketika anak belajar membersihkan toilet, merapikan rak, atau menyusun sepatu secara bergilir, mereka tidak sekadar melakukan tugas: mereka diajak memahami bahwa setiap orang punya tanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama. Kebiasaan ini menanamkan rasa tanggung jawab dan kemandirian — bukan sebagai beban, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Jiip)
Lebih dari itu, di Jepang kurikulum PAUD memandang bahwa pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi soal membentuk karakter dan sikap hidup. Di Taman Kanak-kanak Jepang, anak tidak dipaksa membaca/menulis lebih awal; melainkan lebih difokuskan pada kehidupan sehari-hari, sosial-emosional, dan adaptasi mandiri. (UNDIP E-Journal)
Dorongan kemandirian ini didukung oleh struktur sosial dan lingkungan: banyak anak di Jepang bisa pergi-pulang sekolah sendiri, berjalan kaki atau naik sepeda, karena lingkungan aman dan budaya kolektif memungkinkan itu. Hal ini memperkuat rasa percaya diri dan kemampuan anak mengatur diri. (detikcom)
Di sisi lain, PAUD di Indonesia juga mengakui pentingnya bermain dan perkembangan holistik, tetapi dalam praktik banyak lembaga masih bergantung pada pola yang relatif terstruktur, aman, dan kadang dengan pengawasan intensif. Karena beragam kendala — fasilitas, jumlah guru, kebijakan — kemandirian seperti di Jepang belum selalu menjadi prioritas.
Misalnya, banyak PAUD di Indonesia menekankan bahwa anak “tidak boleh” melakukan sesuatu secara mandiri sebelum orang dewasa memastikan keamanannya. Hal ini wajar dalam konteks tertentu, tetapi bisa membatasi kesempatan anak belajar mengambil inisiatif, mencoba, dan belajar dari kesalahan.
Itu sebabnya, ide memadukan “semangat kemandirian ala Jepang” ke dalam konteks PAUD Indonesia menarik: dengan adaptasi sesuai lokalitas — misalnya memberi kesempatan anak merapikan mainan sendiri, menggantung tas, membantu membereskan ruang main, atau ikut menjaga kebersihan kelas — dapat menjadi langkah kecil tapi signifikan untuk membangun rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri anak.
Tentu adaptasi ini perlu dilakukan dengan bijak. Faktor keamanan, budaya keluarga, jumlah guru, dan lingkungan harus diperhatikan. Tidak semua praktik Jepang bisa diterjemahkan langsung ke Indonesia. Tapi dengan modifikasi kontekstual — misalnya pendekatan bertahap, pelibatan orang tua, serta lingkungan yang mendukung — nilai kemandirian bisa ditanam bersama nilai lokal dan kebutuhan anak.
Dengan demikian, perbandingan ini membuka ruang refleksi: bahwa PAUD bukan sekadar tempat menjaga anak, tetapi juga laboratorium kecil di mana anak belajar hidup — memilih, bertanggung jawab, bekerja sama, dan membangun identitas. Jepang menunjukkan bahwa dengan kepercayaan dan tanggung jawab sejak awal, anak bisa tumbuh mandiri. Indonesia bisa memetik pelajaran sambil menjaga akar budaya dan konteks sosialnya.