Main Bebas itu penting: Menilik Perbandingan PAUD Indonesia dan Finlandia dari Sudut Bermain Bebas
Di Indonesia, sejak lama kita mengenal bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) punya landasan bahwa bermain adalah bagian utama dari belajar. Banyak pendidik PAUD menekankan bahwa melalui bermain, anak bisa tumbuh secara utuh — kognitif, motorik, sosial, dan emosional. (PAUD JATENG)
Tapi praktik “bermain bebas” di PAUD terkadang masih terbatas — banyak institusi PAUD masih menggunakan jadwal cukup padat, aktivitas terstruktur, dan fokus ke persiapan menuju SD.
Sementara itu di Finlandia, bermain bebas — bersama dengan bermain atas inisiatif anak — menjadi bagian inti dari kurikulum pendidikan anak usia dini. Kurikulum nasional mereka menekankan bahwa “play is the essence of learning”: anak diberi ruang untuk berekspresi, berimajinasi, mengeksplorasi, dan berinteraksi, baik di dalam maupun luar ruang kelas. (Opetushallitus)
Yang menarik, dalam kurikulum Finlandia, bermain bebas bukan dianggap sebagai jeda dari belajar, melainkan bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Anak-anak dibebaskan menentukan aktivitas, mengeksplorasi lingkungan, berkreasi, dan belajar melalui pengalaman nyata — bukan lewat worksheet atau tugas yang terlalu akademik. (Helda)
Perbandingan ini menunjukkan bahwa meskipun kedua sistem menghargai bermain, cara dan penekanan berbeda. Di Indonesia, meskipun ada kesadaran bahwa bermain penting, sering kali “bermain bebas” harus diseimbangkan dengan tuntutan akademik atau persiapan sekolah. Sedangkan di Finlandia, keseimbangan lebih condong ke memberi anak banyak kebebasan dan kepercayaan pada proses alami mereka.
Misalnya, di PAUD Indonesia banyak kelas yang menggunakan waktu bermain simbolis atau terstruktur — bermain sambil diawasi ketat, dengan materi dan tujuan tertentu. Itu tentu baik untuk tujuan tertentu. Namun pendekatan Finlandia memberikan ruang bagi anak untuk “memimpin belajar mereka sendiri”, mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, dan kemandirian. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini mendukung perkembangan sosial-emosional, regulasi diri, dan ketahanan psikologis jangka panjang. (Theseus)
Adaptasi aspek Finlandia ke konteks Indonesia tentu tidak mudah. Faktor seperti fasilitas, budaya sekolah, beban kurikulum, dan persepsi orangtua bisa menjadi tantangan. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Beberapa lembaga PAUD di Indonesia bahkan kini mulai mengadopsi play-based learning ala Finlandia, dengan menyediakan area bermain bebas, ruang eksplorasi, dan memberi guru peran sebagai fasilitator, bukan hanya pengarah. (Jawa Pos)
Keuntungan paling nyata dari mengintegrasikan elemen bermain bebas ala Finlandia bagi PAUD Indonesia adalah terciptanya suasana belajar yang lebih natural, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan anak. Anak tak lagi dipaksa belajar terlalu dini secara akademik, melainkan diberi kesempatan tumbuh sesuai ritme mereka sendiri, sambil mengembangkan kreativitas, sosial, dan fisik secara seimbang.
Namun penting diingat bahwa kurikulum Indonesia memiliki kerangka dan tujuan sendiri — misalnya melalui kurikulum yang saat ini mengakomodasi fleksibilitas seperti dalam pendekatan baru. (Jurnal Edukasi Asia) Maka, integrasi unsur bermain bebas harus dilakukan secara bijak, dengan mempertimbangkan konteks lokal, kesiapan guru, dan kebutuhan anak.
Dengan demikian, perbandingan ini bukan semata melihat siapa lebih baik, melainkan membuka ruang refleksi: dari sistem Finlandia kita bisa belajar pentingnya memberi anak ruang eksplorasi dan kebebasan sebagai bagian dari pembelajaran sejati. Dari Indonesia kita bisa menyesuaikan nilai-nilai lokal, kebutuhan pendidikan nasional, dan kondisi nyata di lapangan. Kombinasi inilah yang bisa menghasilkan PAUD yang ramah anak, kontekstual, dan bermakna.