Liburan di Rumah atau di Luar Rumah? Menemukan Makna Belajar dari Dua Pilihan
Cover edited
Liburan selalu menjadi momen yang dinanti anak dan keluarga karena memberikan jeda dari rutinitas harian. Dalam konteks pendidikan anak, pilihan liburan di rumah atau di luar rumah sama-sama memiliki makna dan nilai pembelajaran yang penting jika dipahami secara tepat.
Secara pengertian, liburan adalah waktu pemulihan fisik dan emosional yang memungkinkan anak mengisi ulang energi sebelum kembali ke aktivitas belajar. Baik liburan di rumah maupun di luar rumah, keduanya dapat menjadi ruang belajar nonformal yang kaya pengalaman.
Liburan di rumah sering dianggap sederhana, namun justru menawarkan kedekatan emosional yang kuat. Anak memiliki lebih banyak waktu berinteraksi dengan keluarga, terlibat dalam aktivitas harian, dan belajar tanggung jawab kecil seperti merapikan mainan atau membantu orang tua.
Contoh pembelajaran dari liburan di rumah terlihat saat anak ikut memasak, berkebun, atau bermain peran bersama saudara. Aktivitas ini melatih kemandirian, komunikasi, serta kemampuan sosial anak secara alami tanpa tekanan.
Di sisi lain, liburan di luar rumah memberikan pengalaman eksplorasi yang berbeda. Anak bertemu lingkungan baru, budaya berbeda, serta situasi yang menantang rasa ingin tahu. Perjalanan ke tempat wisata, rumah keluarga, atau alam terbuka memperkaya wawasan anak.
Liburan di luar rumah juga melatih kemampuan adaptasi anak. Anak belajar menyesuaikan diri dengan aturan baru, mengelola emosi saat lelah bepergian, serta belajar bersabar dan bekerja sama selama perjalanan.
Namun, penting disadari bahwa liburan di luar rumah tidak selalu harus jauh atau mahal. Berkunjung ke taman kota, museum lokal, atau pasar tradisional pun sudah memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
Baik liburan di rumah maupun di luar rumah memiliki tantangan masing-masing. Liburan di rumah berisiko membuat anak terlalu banyak terpapar gawai, sementara liburan di luar rumah bisa melelahkan jika tidak direncanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan anak.
Peran orang tua sangat penting dalam memaknai liburan sebagai proses belajar. Dengan pendampingan yang tepat, setiap aktivitas liburan dapat menjadi sarana pengembangan nilai, keterampilan, dan karakter anak.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, liburan bukan sekadar waktu berhenti belajar, tetapi waktu belajar dengan cara yang berbeda. Anak belajar melalui pengalaman nyata yang lebih fleksibel dan menyenangkan.
Ketika anak kembali ke sekolah, pengalaman liburan baik di rumah maupun di luar rumah dapat menjadi bahan refleksi dan cerita yang memperkaya interaksi di kelas. Hal ini membantu transisi belajar berjalan lebih halus.
Pada akhirnya, tidak ada pilihan liburan yang paling benar. Liburan di rumah dan di luar rumah sama-sama bernilai jika dijalani dengan kesadaran, pendampingan, dan tujuan pengembangan anak.
Referensi:
Berk, L. E. (2013). Child Development. Pearson Education.
Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development. McGraw-Hill.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Panduan PAUD Holistik Integratif.
Created
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
SDGs terkait: SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera