Lelah yang Sunyi: Ketika Orang Tua Tak Punya Tempat Bercerita
Menjadi orang tua sering digambarkan sebagai peran yang penuh cinta, kebahagiaan, dan makna. Namun di balik itu, ada sisi lain yang jarang dibicarakan, yaitu kelelahan emosional yang dipendam sendirian tanpa ruang aman untuk bercerita.
Orang tua yang lelah tapi tak punya tempat bercerita adalah mereka yang menjalani rutinitas pengasuhan dengan beban fisik dan mental tinggi, tetapi tidak memiliki dukungan sosial atau emosional yang memadai. Kelelahan ini bukan sekadar capek badan, melainkan juga rasa jenuh, bingung, dan merasa tidak cukup baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua menjalani peran ganda. Mereka bekerja, mengurus rumah, mendampingi anak belajar, sekaligus dituntut selalu sabar dan kuat. Ketika semua peran itu menumpuk, kelelahan menjadi hal yang tak terhindarkan.
Sayangnya, budaya kita masih sering menempatkan orang tua sebagai sosok yang “harus bisa”. Mengeluh dianggap tanda kelemahan, sementara bercerita dikhawatirkan akan dinilai sebagai orang tua yang tidak bersyukur.
Sebagai contoh, seorang ibu yang merasa kewalahan menghadapi perilaku anak usia dini sering memilih diam. Ia takut dianggap tidak mampu mengasuh, padahal yang ia butuhkan hanya didengarkan tanpa dihakimi.
Di sisi lain, ayah juga mengalami hal serupa. Tekanan sebagai pencari nafkah, ditambah tuntutan menjadi ayah yang terlibat, membuat banyak ayah memendam stresnya sendiri tanpa saluran emosi yang sehat.
Kondisi ini berdampak langsung pada pengasuhan. Orang tua yang lelah secara emosional lebih mudah marah, kurang sabar, dan sulit hadir secara utuh untuk anak. Anak pun dapat merasakan ketegangan meski tidak selalu memahami penyebabnya.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini, kelelahan orang tua sering terbawa ke relasi dengan sekolah. Komunikasi menjadi kaku, partisipasi menurun, dan kolaborasi terasa berat.
Padahal, memiliki tempat bercerita adalah kebutuhan dasar manusia. Dukungan sosial, baik dari pasangan, keluarga, komunitas, maupun sekolah, dapat membantu orang tua memproses emosi dan menemukan kembali keseimbangan.
Sekolah dan pendidik PAUD dapat berperan sebagai mitra empatik. Ruang dialog informal, komunikasi yang hangat, dan sikap tidak menghakimi dapat menjadi awal terciptanya rasa aman bagi orang tua.
Mengakui bahwa orang tua bisa lelah bukan berarti mengurangi kualitas pengasuhan. Justru dari pengakuan itu, orang tua belajar merawat diri agar mampu merawat anak dengan lebih sehat.
Normalisasi cerita orang tua tentang lelah dan bingung adalah langkah penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang manusiawi. Anak tumbuh optimal ketika orang tua merasa didukung, bukan dituntut tanpa henti.
Pada akhirnya, orang tua juga manusia yang belajar. Ketika mereka memiliki tempat bercerita, pengasuhan tidak lagi menjadi perjalanan yang sunyi, melainkan proses bersama yang saling menguatkan.
Referensi:
Bronfenbrenner, U. 1979. The Ecology of Human Development.
Epstein, J. L. 2011. School, Family, and Community Partnerships.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2020. Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini berkaitan dengan SDGs tujuan ke-3 Good Health and Well-Being dan tujuan ke-4 Quality Education.