Kurang Tidur, Bukan Sekadar Mengantuk: Dampaknya pada Perilaku Anak PAUD
Kurang tidur pada anak usia dini sering dianggap hal sepele. Banyak orang dewasa berpikir anak bisa “mengejar tidur” di siang hari atau bahwa begadang sesekali tidak masalah. Padahal, tidur memiliki peran penting dalam perkembangan perilaku, emosi, dan kemampuan belajar anak PAUD.
Secara pengertian, kurang tidur adalah kondisi ketika anak tidak mendapatkan durasi dan kualitas tidur yang sesuai dengan kebutuhan usianya. Anak PAUD idealnya membutuhkan sekitar 10–13 jam tidur per hari. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, tubuh dan otak anak bekerja dalam kondisi tidak optimal.
Dalam keseharian, dampak kurang tidur sering terlihat dari perilaku anak di kelas. Anak menjadi lebih mudah marah, rewel, atau menangis tanpa sebab yang jelas. Guru PAUD kerap menghadapi anak yang sulit diatur, padahal akar masalahnya bukan pada sikap, melainkan kelelahan.
Kurang tidur juga memengaruhi kemampuan konsentrasi anak. Anak yang mengantuk cenderung sulit fokus saat bermain atau mengikuti instruksi sederhana. Akibatnya, proses belajar sambil bermain yang seharusnya menyenangkan justru menjadi penuh tantangan.
Dari sisi emosi, anak yang kurang tidur lebih sulit mengelola perasaan. Anak menjadi impulsif, mudah frustrasi, dan kesulitan menunggu giliran. Hal ini sering disalahartikan sebagai perilaku “nakal”, padahal sebenarnya anak sedang kelelahan.
Contoh sederhana dapat dilihat pada anak yang tidur larut karena menonton gawai bersama orang tua. Keesokan harinya, anak menjadi pasif atau justru terlalu aktif di kelas. Pola ini menunjukkan bahwa kualitas tidur malam sangat memengaruhi regulasi perilaku anak.
Ada beberapa mitos dan fakta menarik seputar tidur anak. Mitos yang sering muncul adalah anak yang aktif berarti cukup tidur. Faktanya, anak yang terlalu aktif justru bisa menjadi tanda kurang tidur karena tubuhnya berusaha melawan rasa lelah.
Beberapa tips dan trik yang dapat diterapkan untuk membantu anak mendapatkan tidur yang cukup antara lain:
• Menetapkan rutinitas tidur yang konsisten setiap malam agar tubuh anak mengenali waktu istirahat.
• Mengurangi paparan layar sebelum tidur karena cahaya biru dapat mengganggu kualitas tidur anak.
• Menciptakan suasana kamar yang nyaman, tenang, dan aman agar anak merasa rileks.
Peran orang tua sangat penting dalam membangun kebiasaan tidur sehat. Tidur bukan hanya urusan anak, tetapi bagian dari budaya keluarga. Ketika orang tua memberi contoh pola tidur yang baik, anak lebih mudah menirunya.
Sekolah PAUD juga dapat berkontribusi dengan memberikan edukasi ringan kepada orang tua. Diskusi tentang perilaku anak di kelas bisa menjadi pintu masuk membahas pentingnya tidur. Kolaborasi ini membantu memahami anak secara lebih utuh.
Kurang tidur dalam jangka panjang dapat berdampak pada perkembangan kognitif anak. Anak menjadi lebih lambat dalam memproses informasi dan kurang responsif terhadap stimulasi. Hal ini berpotensi memengaruhi kesiapan belajar anak di tahap selanjutnya.
Dengan memahami dampak kurang tidur, guru dan orang tua dapat lebih empatik terhadap perilaku anak. Pendekatan yang tepat bukanlah hukuman, melainkan perbaikan pola hidup. Tidur cukup adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang anak PAUD.
Pada akhirnya, perilaku anak adalah cerminan dari kebutuhan dasarnya yang terpenuhi atau tidak. Tidur yang cukup membantu anak menjadi lebih tenang, fokus, dan siap belajar. Investasi kecil dalam rutinitas tidur memberikan dampak besar bagi kualitas kehidupan anak.
Referensi:
Owens, J. A. 2014. Insufficient Sleep in Children.
Santrock, J. W. 2011. Child Development.
WHO. 2019. Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai