Konsep Self-Narrative: Bagaimana Anak Membangun Cerita tentang Dirinya Sendiri
Self-narrative atau narasi diri adalah konsep psikologis yang merujuk pada cara seseorang membangun cerita atau interpretasi tentang pengalaman hidupnya, yang kemudian membentuk identitas, keyakinan, dan pandangan terhadap diri sendiri. Pada anak-anak, self-narrative berperan penting dalam perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Anak tidak hanya mengalami peristiwa, tetapi juga mulai memahami, menafsirkan, dan menceritakan pengalaman tersebut, sehingga mereka bisa membentuk gambaran siapa diri mereka dan bagaimana mereka berhubungan dengan dunia di sekitar mereka.
Proses membangun self-narrative pada anak biasanya dimulai dari interaksi dengan orang tua, guru, dan teman sebaya. Ketika anak menceritakan pengalaman sehari-hari atau perasaan mereka, mereka belajar mengenali emosi, mengembangkan empati, dan memahami konsekuensi dari tindakan mereka. Misalnya, anak yang sering diminta menceritakan kesuksesan atau kegagalan dalam sebuah tugas belajar akan mulai membentuk pemahaman tentang kemampuan, ketekunan, dan batas diri mereka sendiri.
Salah satu trivia menarik adalah bahwa narasi diri yang dibangun sejak dini dapat memengaruhi bagaimana anak menghadapi tantangan di masa depan. Anak yang terbiasa melihat pengalaman negatif sebagai pelajaran akan lebih resilien, sementara anak yang cenderung membingkai pengalaman secara negatif mungkin lebih rentan terhadap stres dan kecemasan. Penelitian juga menunjukkan bahwa mendorong anak untuk mengekspresikan cerita mereka, baik melalui percakapan maupun kegiatan kreatif seperti menggambar atau menulis, dapat memperkuat rasa percaya diri dan kemampuan refleksi diri.
Dengan demikian, self-narrative bukan sekadar cerita yang dibuat anak tentang dirinya, tetapi merupakan pondasi penting untuk perkembangan identitas, kemampuan sosial, dan kesejahteraan emosional. Orang tua dan pendidik dapat berperan aktif dengan memberikan ruang bagi anak untuk bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, dan membantu mereka menafsirkan pengalaman secara positif.