Konsep ‘Saving Face’ pada Anak Usia Dini: Mengapa Menjaga Harga Diri Anak Penting dalam Mendisiplinkan Mereka?
Konsep ‘saving face’ merujuk pada upaya seseorang untuk menjaga harga diri atau citra diri agar tetap positif di mata orang lain, termasuk dalam konteks interaksi sosial. Pada anak usia dini, prinsip ini sangat relevan karena mereka sedang membangun identitas diri dan pemahaman sosial. Menjaga harga diri anak berarti memperlakukan mereka dengan hormat, menghindari penghinaan atau kritik yang mempermalukan, dan memberikan kesempatan untuk belajar dari kesalahan tanpa rasa takut. Dalam mendisiplinkan anak, pendekatan yang menghargai ‘face’ anak dapat membuat proses pembelajaran perilaku lebih efektif, karena anak tidak merasa terancam atau kehilangan rasa percaya diri. Misalnya, alih-alih menegur anak secara keras di depan teman-temannya, guru atau orang tua dapat memberikan arahan secara tenang dan personal, sehingga anak tetap merasa dihargai sambil memahami kesalahan mereka. Studi psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang harga dirinya dihormati cenderung lebih kooperatif, memiliki motivasi intrinsik untuk memperbaiki perilaku, dan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai positif. Trivia menariknya, istilah ‘saving face’ sendiri berasal dari budaya Asia Timur, di mana menjaga kehormatan diri dan orang lain menjadi bagian penting dalam interaksi sosial, namun konsep ini kini diadopsi secara universal dalam psikologi anak sebagai strategi membangun disiplin yang empatik dan efektif.