Ketimpangan Play Opportunities: Apakah Semua Anak Mendapat Kesempatan Bermain yang Sama?
Ketimpangan play opportunities atau ketimpangan kesempatan bermain merujuk pada kondisi ketika anak-anak tidak memiliki akses yang setara terhadap ruang, waktu, fasilitas, atau pengalaman bermain yang berkualitas. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, bermain bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan cara utama anak belajar, membangun konsep, mengembangkan emosi, serta memperkuat keterampilan sosialnya. Namun, kenyataannya tidak semua anak memiliki kesempatan bermain yang sama. Faktor ekonomi, lingkungan tempat tinggal, budaya keluarga, dan kualitas lembaga PAUD menjadi penentu apakah seorang anak dapat menikmati pengalaman bermain yang kaya dan bermakna.
Ketimpangan ini tampak nyata pada perbedaan fasilitas bermain antara wilayah perkotaan dan pedesaan, lembaga PAUD dengan sumber daya besar dan kecil, hingga keluarga dengan latar belakang ekonomi berbeda. Anak yang tinggal di lingkungan padat tanpa ruang terbuka sering kali hanya bermain di area sempit, sementara anak di daerah dengan sarana publik memadai bisa menikmati permainan fisik yang lebih bervariasi. Kondisi ini memengaruhi perkembangan mereka, terutama kemampuan motorik, kreativitas, kemampuan sosial, dan problem solving. Di lembaga PAUD, tantangan semakin besar ketika keterbatasan alat permainan edukatif membuat proses pembelajaran kurang optimal dan tidak memberi pengalaman eksplorasi yang cukup bagi anak.
Dalam keluarga, persepsi orang tua terhadap bermain juga berperan penting. Sebagian orang tua masih menganggap bermain sebagai aktivitas yang kurang bermanfaat dibanding belajar akademik, sehingga anak tidak diberi kesempatan cukup untuk bereksplorasi. Sebaliknya, keluarga dengan pemahaman yang lebih baik cenderung menyediakan ruang, waktu, bahkan permainan yang mendukung perkembangan anak. Perbedaan ini memperkuat ketimpangan yang sudah terjadi di lingkungan masyarakat dan sekolah.
Trivia:
• Penelitian UNESCO menunjukkan bahwa waktu bermain bebas dapat meningkatkan kemampuan sosial-emosional anak hingga 40%.
• Menurut UNICEF, anak dari keluarga berpenghasilan rendah dua kali lebih berisiko tidak mendapatkan akses permainan yang aman dan berkualitas.
• WHO merekomendasikan anak usia dini mendapatkan setidaknya 180 menit aktivitas fisik per hari, namun banyak anak yang hanya mencapai kurang dari separuhnya karena keterbatasan ruang bermain.
Mengurangi ketimpangan kesempatan bermain membutuhkan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan pemerintah. PAUD dapat menciptakan low-cost play materials seperti balok kardus, botol plastik, atau alat permainan berbahan alam. Pemerintah daerah dapat memperbanyak ruang publik ramah anak, sementara orang tua dapat memberikan waktu bebas bermain di rumah. Jika setiap pihak berperan, maka setiap anak—tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi—dapat menikmati hak dasar mereka untuk bermain, tumbuh, dan berkembang secara optimal.