Ketika Sekolah Jadi Rumah Bumi: Mengembangkan Budaya Peduli Lingkungan Sehari-hari
Budaya sekolah peduli lingkungan bukan lagi konsep baru, tetapi kini menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan iklim dan meningkatnya jumlah sampah. Sekolah memiliki peran besar sebagai tempat anak belajar kebiasaan yang akan mereka bawa hingga dewasa. Ketika budaya peduli lingkungan tumbuh kuat, sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi ruang hidup yang mengajarkan nilai cinta bumi.
Proses pengembangan budaya ini biasanya dimulai dari kebiasaan kecil. Misalnya, setiap pagi anak membawa botol minum isi ulang dan kotak makan sendiri. Kebiasaan sederhana ini mengurangi sampah plastik sekali pakai yang biasanya menumpuk di tempat sampah sekolah. Di beberapa sekolah Adiwiyata, kebiasaan ini sudah menjadi aturan positif yang membuat lingkungan sekolah lebih bersih.
Contoh lain yang relevan adalah adanya program “Jumat Hijau”. Pada hari itu, seluruh warga sekolah melakukan kegiatan seperti menyapu halaman, menata taman, atau membersihkan selokan. Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti, tetapi mengajarkan anak untuk tidak memandang kebersihan sebagai tugas petugas kebersihan saja. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Budaya ramah lingkungan juga dapat dibangun melalui pojok daur ulang. Di kelas, guru menyiapkan tiga tempat sampah untuk memisahkan kertas, plastik, dan organik. Anak-anak secara bertahap memahami bahwa sampah memiliki tempatnya masing-masing. Banyak sekolah bahkan mengolah sampah organik menjadi kompos yang kemudian digunakan untuk merawat tanaman di taman sekolah.
Program penghijauan juga menjadi bagian penting. Banyak sekolah menyediakan satu hari khusus untuk menanam tanaman baru. Setiap kelas bisa memiliki tanaman “adopsi” yang harus dirawat sepanjang semester. Ketika anak merasa memiliki tanaman tersebut, mereka akan lebih bertanggung jawab menjaga lingkungan sekitarnya.
Guru juga berperan dalam menanamkan nilai peduli lingkungan melalui pembelajaran. Misalnya, dalam pelajaran IPA, siswa diajak mengamati dampak pencemaran air menggunakan eksperimen sederhana. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa bisa menulis poster kampanye lingkungan. Perpaduan praktik dan teori membantu anak memahami masalah lingkungan secara lebih mendalam.
Tidak hanya itu, budaya peduli lingkungan juga dapat dihidupkan melalui media digital. Beberapa sekolah membuat video edukasi, podcast kecil, atau poster digital yang membahas isu lingkungan. Anak-anak menjadi lebih kreatif sekaligus sadar bahwa media bisa digunakan untuk mengajak orang lain peduli bumi.
Kerja sama dengan orangtua juga sangat penting. Lingkungan sekolah akan lebih mudah dijaga jika kebiasaan serupa diterapkan di rumah. Misalnya, orangtua mendukung program zero waste sekolah dengan menyiapkan bekal tanpa bungkus plastik atau menggunakan kantong belanja kain. Ketika sekolah dan rumah sejalan, budaya peduli lingkungan berkembang lebih kuat.
Salah satu contoh sukses datang dari sekolah-sekolah yang telah meraih predikat Adiwiyata. Mereka tidak hanya memiliki halaman hijau, tetapi seluruh warga sekolah sudah terbiasa menjalankan perilaku ramah lingkungan tanpa diminta. Dari perilaku membuang sampah pada tempatnya hingga hemat listrik, semuanya dilakukan secara alami sebagai bagian dari budaya sekolah.
Pada akhirnya, membangun budaya sekolah peduli lingkungan bukan sesuatu yang instan. Ia membutuhkan waktu, kebiasaan berulang, dan dukungan seluruh pihak. Namun ketika budaya itu tumbuh, sekolah berubah menjadi tempat yang tidak hanya mendidik kecerdasan, tetapi juga karakter dan kepedulian terhadap bumi.