Ketika Kolaborasi Orang Tua Tinggal di Atas Kertas
Kolaborasi antara orang tua dan sekolah sering disebut sebagai kunci keberhasilan pendidikan anak usia dini. Dalam teori, kolaborasi ini terdengar ideal dan saling menguatkan. Namun dalam praktik sehari-hari, kolaborasi orang tua tidak selalu berjalan mulus seperti yang dibayangkan.
Kolaborasi orang tua dapat dimaknai sebagai kerja sama aktif antara keluarga dan lembaga pendidikan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Bentuknya bisa berupa komunikasi rutin, keterlibatan dalam kegiatan sekolah, hingga kesepahaman nilai pengasuhan dan pembelajaran.
Masalah mulai muncul ketika teori bertemu dengan realitas kehidupan orang tua. Tidak semua orang tua memiliki waktu, energi, atau pemahaman yang sama untuk terlibat aktif. Kesibukan kerja, tekanan ekonomi, dan beban domestik sering menjadi penghalang utama.
Sebagai contoh, sekolah mengharapkan orang tua mendampingi anak belajar di rumah, sementara orang tua pulang dalam kondisi lelah dan waktu yang terbatas. Ketidaksesuaian harapan ini dapat memicu rasa frustrasi di kedua belah pihak.
Dari sisi guru, ketidakaktifan orang tua sering ditafsirkan sebagai kurang peduli. Padahal, banyak orang tua sebenarnya peduli tetapi tidak tahu bagaimana cara terlibat secara efektif sesuai kapasitasnya.
Perbedaan latar belakang sosial dan budaya juga memengaruhi pola kolaborasi. Cara pandang orang tua terhadap pendidikan tidak selalu sejalan dengan pendekatan sekolah, sehingga komunikasi menjadi kurang nyambung.
Kolaborasi yang tidak berjalan dapat berdampak pada anak. Anak bisa menerima pesan yang berbeda antara rumah dan sekolah, yang pada akhirnya membingungkan dan memengaruhi proses belajarnya.
Dalam konteks PAUD, kolaborasi seharusnya bersifat fleksibel dan manusiawi. Tidak semua bentuk keterlibatan harus formal atau terlihat. Dukungan emosional di rumah juga merupakan bagian penting dari kolaborasi.
Sekolah memiliki peran strategis untuk membuka ruang dialog yang setara. Alih-alih menuntut, sekolah dapat mengajak orang tua berdiskusi tentang bentuk kolaborasi yang realistis dan saling menghargai.
Pendekatan empatik membantu membangun kepercayaan. Ketika orang tua merasa dipahami, mereka cenderung lebih terbuka untuk terlibat sesuai kemampuannya.
Kolaborasi bukan tentang siapa yang paling aktif, melainkan tentang tujuan bersama demi kepentingan anak. Kesepakatan kecil yang konsisten sering kali lebih bermakna daripada program besar yang tidak berjalan.
Membicarakan kegagalan kolaborasi secara jujur adalah langkah penting. Dari sini, konsep kolaborasi dapat disesuaikan dengan realitas kehidupan keluarga masa kini.
Teori kolaborasi tetap penting sebagai arah, tetapi praktiknya perlu adaptif. Pendidikan yang baik tumbuh dari hubungan yang realistis, saling percaya, dan berkelanjutan.
Referensi: Epstein, J. L. 2011. School, Family, and Community Partnerships. Hornby, G. 2011. Parental Involvement in Childhood Education. Kemdikbud. 2021. Kemitraan Sekolah dan Keluarga.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini terkait dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-17 Partnerships for the Goals.