Kesepian Orang Tua di Kota Besar yang Serba Cepat
Hidup di kota besar sering digambarkan sebagai kehidupan yang penuh peluang, fasilitas lengkap, dan ritme yang dinamis. Namun di balik semua itu, banyak orang tua justru merasakan kesepian yang mendalam. Kota yang ramai tidak selalu menjamin adanya kedekatan emosional, terutama bagi orang tua yang sedang menjalani fase pengasuhan anak.
Kesepian orang tua dapat dimaknai sebagai kondisi emosional ketika individu merasa kurang memiliki hubungan sosial yang bermakna, meskipun secara fisik berada di tengah banyak orang. Pada konteks kota besar, kesepian ini sering tersembunyi di balik kesibukan pekerjaan, kemacetan, dan jadwal harian yang padat.
Orang tua di kota besar menghadapi tuntutan ganda antara pekerjaan dan keluarga. Waktu yang tersisa untuk membangun relasi sosial menjadi sangat terbatas. Akibatnya, interaksi yang terjadi sering kali bersifat fungsional, bukan emosional, seperti sekadar menyapa tetangga atau berbincang singkat di sekolah anak.
Perubahan struktur keluarga juga berperan besar. Banyak orang tua muda tinggal jauh dari keluarga besar demi pekerjaan. Ketika tidak ada kakek, nenek, atau kerabat dekat, beban pengasuhan terasa lebih berat dan rasa sepi semakin nyata, terutama saat menghadapi tantangan pengasuhan sehari-hari.
Sebagai contoh, orang tua yang tinggal di apartemen mungkin jarang mengenal tetangganya. Anak bermain sendiri di dalam rumah, sementara orang tua menghabiskan waktu dengan gawai. Situasi ini membuat interaksi sosial menjadi minim, meskipun lingkungan sekitar sangat padat penduduk.
Kesepian tidak selalu berarti sendirian secara fisik. Banyak orang tua merasa tidak memiliki ruang aman untuk berbagi cerita, keluh kesah, atau pengalaman mengasuh anak. Budaya kota yang serba cepat sering membuat empati dan perhatian menjadi hal yang langka.
Dampak kesepian orang tua tidak bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental, meningkatkan stres, dan menurunkan kualitas pengasuhan. Anak usia dini yang sangat peka terhadap emosi orang tua dapat ikut merasakan ketegangan tersebut.
Dalam konteks pendidikan, peran orang tua sangat penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Orang tua yang merasa kesepian dan kelelahan emosional cenderung kurang optimal dalam mendampingi proses belajar anak, baik di rumah maupun dalam kolaborasi dengan sekolah.
Lembaga PAUD di kota besar memiliki potensi besar sebagai ruang sosial, tidak hanya bagi anak tetapi juga bagi orang tua. Kegiatan bersama, komunikasi yang hangat, dan komunitas orang tua dapat menjadi jembatan untuk mengurangi rasa terasing.
Kesepian orang tua di kota besar bukanlah kegagalan individu, melainkan dampak dari sistem sosial yang kurang ramah keluarga. Kesadaran kolektif diperlukan untuk membangun lingkungan yang lebih peduli dan inklusif.
Menciptakan ruang interaksi sederhana, seperti kelompok orang tua, kegiatan komunitas, atau forum diskusi, dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar. Dari sinilah rasa terhubung dan saling mendukung dapat tumbuh kembali.
Memahami kesepian orang tua berarti memahami bahwa kesejahteraan anak sangat berkaitan dengan kesejahteraan orang tuanya. Kota yang sehat bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga hubungan antarmanusia.
Referensi: Putnam, R. D. 2000. Bowling Alone. Cacioppo, J. T., & Patrick, W. 2008. Loneliness. Kemdikbud. 2020. Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak Usia Dini.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini terkait dengan SDGs tujuan ke-3 Good Health and Well-Being dan tujuan ke-11 Sustainable Cities and Communities serta tujuan ke-4 Quality Education.