Kesalahan Pengasuhan yang Sering Tidak Disadari: Hal Kecil yang Berdampak Besar
Kesalahan pengasuhan tidak selalu terlihat besar atau dramatis. Justru, banyak di antaranya muncul dari kebiasaan kecil yang sering dilakukan orangtua tanpa sadar. Di tengah kesibukan, kelelahan, atau keinginan untuk memberikan yang terbaik, beberapa hal terlewat begitu saja. Padahal, dampaknya bisa memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga kepercayaan diri anak dalam jangka panjang.
Salah satu kesalahan yang paling umum adalah meremehkan emosi anak. Misalnya ketika anak menangis karena hal sepele, orangtua sering berkata, “Ah, itu kan cuma hal kecil,” atau “Kamu lebay.” Padahal, bagi anak, itu adalah pengalaman besar yang sedang ia pelajari. Validasi emosi—meski singkat—dapat membantu anak merasa aman dan dipahami.
Kesalahan lain yang sering terjadi tanpa disadari adalah terlalu cepat menolong anak. Misalnya ketika anak kesulitan memakai sepatu, orangtua langsung membantu agar tidak terlambat. Padahal, jika ini terjadi terus-menerus, anak kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri. Memberi waktu ekstra beberapa menit saja dapat membuat anak merasa mampu dan percaya diri.
Banyak orangtua juga tak sadar sering membandingkan anak, baik dengan kakaknya, sepupunya, maupun anak teman. Kalimat seperti “Tuh, adikmu sudah bisa,” atau “Temanmu saja berani, masa kamu tidak?” tampak sederhana, tetapi dapat menanamkan rasa tidak cukup baik dalam diri anak. Anak justru berkembang lebih baik ketika dibandingkan dengan dirinya sendiri—kemarin dan hari ini.
Ada pula kebiasaan memberi ancaman agar anak patuh. “Kalau tidak nurut, nanti Mama tinggal,” atau “Kalau nakal, ayah marah.” Efektif? Mungkin. Sehat? Tidak. Ancaman membuat anak patuh karena takut, bukan karena memahami alasan dari aturan. Pada akhirnya, hubungan menjadi tegang dan anak belajar bahwa kekuatan lebih penting daripada komunikasi.
Masalah lain yang sering terjadi adalah multitasking saat berinteraksi dengan anak. Banyak orangtua merasa sudah “menemani,” padahal sebagian besar waktu mereka menatap layar ponsel. Bagi anak, kehadiran yang tidak penuh terasa seperti ketidakhadiran sama sekali. Bahkan 10 menit bermain dengan perhatian penuh jauh lebih bernilai daripada 1 jam bersama namun tidak fokus.
Sering juga orangtua tidak sadar terlalu mengatur anak. Mulai dari menentukan hobi, aktivitas, hingga cara anak mengekspresikan diri. Padahal, anak butuh ruang untuk mengenali diri dan membuat keputusan kecil. Ketika terlalu dikendalikan, anak akan tumbuh dengan kecenderungan ragu-ragu atau takut mencoba.
Kesalahan lainnya adalah melabeli anak. Kalimat seperti “Kamu memang nakal,” atau “Dasar pemalu” dapat menjadi identitas yang tertanam dalam pikiran mereka. Lebih baik fokus pada perilaku, bukan karakter: “Kamu berlari di tempat yang berbahaya,” atau “Kamu butuh waktu untuk merasa nyaman, tidak apa-apa.”
Tak sedikit orangtua juga lupa memuji proses dan hanya memuji hasil. “Kamu pintar sekali!” memang terdengar baik, tetapi memuji usaha seperti “Kamu bekerja keras” jauh lebih membangun pola pikir berkembang (growth mindset).
Selain itu, terlalu banyak melindungi anak dari kegagalan juga menjadi kesalahan yang tidak disadari. Padahal, kegagalan kecil justru membantu anak belajar bangkit, berstrategi, dan membangun ketahanan mental.
Dengan memahami kesalahan-kesalahan kecil ini, orangtua dapat memperbaiki pola pengasuhan tanpa merasa terbebani. Parenting bukan tentang menjadi sempurna, melainkan menjadi cukup baik dan selalu mau belajar.