Kelas Ramai, Hati Tetap Hadir: Realita PAUD dengan Rasio Guru–Anak Tinggi
Mengelola kelas PAUD sering terdengar menyenangkan karena identik dengan dunia bermain dan tawa anak. Namun realitanya, banyak guru PAUD bekerja dalam kondisi rasio guru–anak yang tinggi. Satu guru harus menangani banyak anak dengan karakter, kebutuhan, dan emosi yang berbeda-beda dalam waktu yang bersamaan.
Rasio guru–anak tinggi dapat dimaknai sebagai kondisi ketika jumlah anak dalam satu kelas tidak sebanding dengan jumlah guru pendamping. Idealnya, PAUD memiliki rasio kecil agar interaksi hangat dan individual dapat terjaga, tetapi di lapangan hal ini sering sulit diwujudkan.
Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya, baik jumlah tenaga pendidik maupun dukungan institusi. Akibatnya, satu guru harus merangkap banyak peran, mulai dari pendidik, pengasuh, mediator konflik, hingga pengamat perkembangan anak.
Sebagai contoh, dalam satu kelas berisi lebih dari dua puluh anak, guru harus memastikan semua anak aman, terlibat bermain, dan mendapatkan stimulasi belajar yang sesuai. Saat satu anak menangis, anak lain mungkin berebut mainan, sementara sebagian lainnya membutuhkan pendampingan belajar.
Situasi ini menuntut energi fisik dan emosional yang besar. Guru PAUD sering dituntut untuk tetap sabar, ceria, dan responsif meskipun kelelahan. Di sinilah tantangan profesionalisme guru PAUD benar-benar diuji.
Rasio tinggi juga memengaruhi kualitas interaksi. Guru mungkin kesulitan memberikan perhatian individual secara optimal. Padahal, anak usia dini belajar paling efektif melalui relasi yang hangat dan responsif dengan orang dewasa.
Dari sisi anak, kelas yang terlalu padat dapat memicu overstimulasi. Anak menjadi lebih mudah lelah, rewel, atau sulit fokus. Hal ini sering disalahartikan sebagai perilaku bermasalah, padahal konteks lingkungannya kurang mendukung.
Dalam konteks pendidikan populer, realita ini jarang dibicarakan secara jujur. Guru PAUD sering dianggap “hanya bermain dengan anak”, tanpa melihat kompleksitas pengelolaan kelas yang sebenarnya sangat menantang.
Meski demikian, banyak guru PAUD mengembangkan strategi kreatif. Pengelompokan kecil, rutinitas yang konsisten, dan pemanfaatan permainan kolaboratif menjadi cara bertahan di tengah keterbatasan.
Dukungan lembaga dan kebijakan sangat dibutuhkan. Rasio guru–anak bukan sekadar angka administratif, tetapi berpengaruh langsung pada kesejahteraan guru dan kualitas pengalaman belajar anak.
Orang tua juga perlu memahami kondisi ini agar dapat membangun kerja sama yang lebih empatik dengan guru. Pendidikan anak usia dini adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu pihak.
Mengelola kelas PAUD dengan rasio tinggi adalah realita yang menuntut ketangguhan. Mengakui tantangan ini menjadi langkah awal untuk memperjuangkan pendidikan anak usia dini yang lebih manusiawi.
Referensi: Copple, C., & Bredekamp, S. 2009. Developmentally Appropriate Practice. OECD. 2019. Providing Quality Early Childhood Education and Care. Kemdikbud. 2022. Standar PAUD Nasional.
Created:
Penulis edit dan Cover Edit : Faizatun Nikmah
Tulisan Dibuat Oleh : Ai
Artikel ini terkait dengan SDGs tujuan ke-4 Quality Education dan tujuan ke-8 Decent Work and Economic Growth serta tujuan ke-3 Good Health and Well-Being.