Hubungan Paparan Blue Light dengan Gangguan Melatonin dan Kualitas Tidur Anak.
Paparan blue light atau cahaya biru merupakan jenis cahaya dengan panjang gelombang pendek dan energi tinggi yang secara alami berasal dari matahari, namun dalam kehidupan modern lebih banyak dipancarkan oleh layar gawai seperti ponsel pintar, tablet, televisi, dan komputer. Pada anak, paparan blue light sering terjadi pada sore hingga malam hari seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital untuk hiburan maupun pembelajaran. Kondisi ini menjadi perhatian karena sistem biologis anak, khususnya ritme sirkadian, masih berada dalam tahap perkembangan sehingga lebih sensitif terhadap rangsangan cahaya dibandingkan orang dewasa.
Melatonin adalah hormon yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur dan bangun. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pineal dan dilepaskan secara alami ketika lingkungan mulai gelap, sebagai sinyal biologis bagi tubuh untuk bersiap tidur. Paparan blue light pada malam hari dapat menghambat produksi melatonin karena cahaya biru ditangkap oleh retina mata dan diterjemahkan otak sebagai tanda siang hari. Pada anak, penghambatan melatonin ini dapat menyebabkan keterlambatan waktu tidur, kesulitan memulai tidur, serta penurunan durasi tidur secara keseluruhan.
Gangguan produksi melatonin akibat blue light berimplikasi langsung pada kualitas tidur anak. Tidur yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu tidur, tetapi juga oleh kedalaman dan kontinuitas tidur. Anak yang terpapar blue light sebelum tidur cenderung mengalami tidur yang lebih dangkal, sering terbangun di malam hari, dan merasa kurang segar saat bangun pagi. Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk dapat memengaruhi konsentrasi, regulasi emosi, daya ingat, serta pertumbuhan fisik anak, mengingat hormon pertumbuhan banyak dilepaskan saat tidur malam.
Dari perspektif perkembangan, gangguan tidur pada anak juga berpotensi memengaruhi perilaku dan kesiapan belajar. Anak yang kurang tidur lebih mudah mengalami iritabilitas, kelelahan, dan kesulitan mengendalikan impuls. Hal ini sering kali disalahartikan sebagai masalah perilaku atau kurangnya motivasi belajar, padahal akar permasalahannya dapat berkaitan dengan pola tidur yang terganggu akibat paparan blue light yang berlebihan pada waktu yang tidak tepat.
Sebagai trivia, mata anak menyerap blue light lebih banyak dibandingkan mata orang dewasa karena lensa mata anak masih lebih jernih dan belum banyak menyaring cahaya berenergi tinggi. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa paparan blue light selama kurang dari satu jam sebelum tidur saja sudah cukup untuk menunda pelepasan melatonin pada anak. Fakta menarik lainnya, menurunkan kecerahan layar tidak sepenuhnya menghilangkan efek blue light, sehingga pengaturan waktu penggunaan gawai, bukan sekadar intensitas cahaya, menjadi kunci penting dalam menjaga kualitas tidur anak.