Healthy conflict atau perselisihan sehat adalah bentuk pertentangan kecil yang terjadi secara alami antara anak-anak saat berinteraksi, seperti berebut mainan, berbeda pendapat, atau merasa tidak didengarkan. Berbeda dengan konflik negatif yang memicu kekerasan atau perilaku agresif, healthy conflict justru menjadi ruang belajar penting bagi anak untuk memahami diri sendiri, orang lain, serta cara berkomunikasi yang baik. Konflik kecil ini membantu anak mengenali emosi, melatih empati, serta belajar menyelesaikan masalah melalui cara yang lebih positif dan terarah. Dengan pendampingan guru atau orang tua, situasi perselisihan bisa berubah menjadi momen pembelajaran sosial-emosional yang sangat berharga.
Perselisihan kecil memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan sosial penting, seperti negosiasi, berbagi, mendengarkan, dan mengelola emosi. Ketika anak diberi ruang untuk mencari solusi sendiri, mereka belajar bahwa masalah dapat diselesaikan tanpa harus menang atau menguasai situasi. Proses ini menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan self-regulation yang menjadi fondasi bagi hubungan sosial yang lebih matang di masa dewasa. Healthy conflict juga mengajarkan anak untuk memahami perspektif orang lain, sehingga mereka tumbuh menjadi individu yang lebih toleran, fleksibel, dan mampu bekerja sama dalam kelompok.
Trivia: Penelitian dalam bidang pendidikan anak usia dini menunjukkan bahwa anak-anak yang dibiarkan terlibat dalam konflik kecil namun dibimbing dengan tepat memiliki kemampuan pemecahan masalah sosial yang lebih baik dibandingkan anak yang selalu dilindungi dari konflik. Selain itu, sekitar 60% interaksi sosial anak usia dini secara alami mengandung unsur negosiasi atau perselisihan ringan—menjadikannya bagian normal dari proses tumbuh kembang.
Dengan memahami pentingnya healthy conflict, guru dan orang tua dapat mengubah cara pandang terhadap perselisihan kecil yang terjadi di antara anak-anak. Alih-alih langsung melarang atau menghentikan, orang dewasa dapat berperan sebagai fasilitator yang membantu anak mengidentifikasi masalah, memahami perasaan masing-masing, dan mencari solusi yang adil. Pendekatan ini bukan hanya membentuk keterampilan sosial anak, tetapi juga membangun karakter yang kuat, mandiri, dan siap menghadapi dinamika kehidupan sosial di masa depan.